Seriboe Djendela Blog

facebook twitter instagram
  • Home
  • About
  • Contact
  • Merchandise
  • Label
    • 20 Tahun TSD
    • Panggung
    • Puisi
    • Khas
    • Cerpen
    • Lakon


Kisah ini mengandung 60% pengalaman dan pengetahuan pribadi, dioplos dengan 15% cerita pemilik warung di Gereja Ayam Bukit Rhema, 15% cerita satpam Candi Borobudur, dan 10% khayalan.
Baik dibaca dengan camilan kacang atau kwaci, atau krupuk jika kacang atau kwaci tak tersedia.


Senja masih cemerlang di atas langit Borobudur. Yanto melihat jam tangan. Hampir pukul lima, waktunya turun, pikir Yanto sambil meliukkan tubuhnya dan menguap. Dikuceknya mata dan dilepasnya topi hitam yang sedari pagi melindungi kepalanya dari sengat dan sangit matahari. Reflek diciumnya bagian dalam topi. Hmmm…bau apak yang nikmat. Bau pria sejati pencari nafkah. Yanto tersenyum. Dibayangkannya mandi segar malam itu di rumah, dan lebih baik lagi kalau istrinya juga belum mandi. Ah, Welas memang selalu bikin kangen. Tiap pagi aku berangkat, belum lima meter dari rumah aku sudah kepingin pulang saja. Hehehe… Dasar manten anyar, cemooh Yanto pada dirinya sendiri.

Ia menyeringai, membayangkan malam itu ia mandi, dan istrinya bergabung. Tapi tak mungkin. Rumahnya cukup jauh di Parakan, Temanggung. Kasihan istriku kalau mandi pun harus menungguku pulang, Yanto geli. Lama-lama istrinya bisa rematik kalau mandi malam terus. Lagipula, sebelum pulang ke rumah, Yanto selalu menyempatkan diri mandi dulu di kamar mandi dekat pos satpam. Perjalanan ke Parakan butuh mata yang awas dan konsentrasi yang tinggi, apalagi kalau menjelang malam.

Di hari yang sama, minggu lalu, Yanto mengalami hari kerja yang cukup gila. Turis datang bagai bendungan jebol, menggenangi candi dari kaki hingga puncak. Yanto naik-turun bersama sepuluh rekannya mengawasi setiap tingkat candi, membantu para lansia meniti anak tangga yang cukup curam, dan menghardik turis yang hendak memanjat stupa dan berpose atraktif demi sebuah unggahan foto bertagar #saveourculture #BorobudurWorldHeritage #travelercantik. Yanto heran betul dengan kelakuan turis-turis jenis ini. Ha mbok difoto candinya saja kenapa, kalau memang menurutmu candinya bagus; tidak perlu ada kamunya, sampai naik-naik stupa segala, kritik Yanto tanpa suara. Lima tahun belakangan, turis macam begini makin banyak, bahkan mungkin lebih banyak daripada lumut candi. Yanto bergidik.

Sekitar jam 12 siang, nyaris ada yang baku hantam di dekat stupa induk. Antar turis lokal. Turis lokal yang lain saling berkerumun. Turis asing turut serta, siap mengabadikan perkelahian itu untuk sebuah unggahan video bertagar #problemsolving #wonderfulindonesia. Akar permasalahannya lagi-lagi tak jauh dari hobi unggah-mengunggah. Sepasang kekasih hendak berswafoto diantara dua stupa, dengan latar belakang stupa induk. Kamera sudah terpasang di tripod, penghitung mundur dijalankan, lalu ketika kamera mengambil foto, hasilnya tak seperti yang diharapkan. Orang-orang lalu-lalang di belakang mereka. Tak puas dengan hasil foto, pasangan yang perempuan meminta turis-turis lain untuk minggir. Ia mau latar belakang fotonya steril. Sayangnya, cara gadis itu meminta kurang elegan, terkesan seperti mengusir. Salah satu turis yang dihalau tersulut emosinya. Kebetulan turis ini pria berperawakan sangar, bertato dan berotot. Cocok untuk antagonis-antagonisan. Pria sangar ini melotot dan meloloskan sumpah-serapah dari mulutnya pada sepasang kekasih narsis itu. Namun, pasangan yang laki-laki tak gentar. Demi membela kekasihnya, dan karena merasa punya bekal ilmu silat yang cukup, ditantangnya pria bertato itu, setelah dengan penuh kasih sayang menyuruh pacarnya minggir. Biar Kakang selesaikan secara ksatria, Diajeng, katanya penuh percaya diri.

“Eh, sudah, sudah, sudah, mohon bubar, bubar, bubar!!!” Yanto dan dua rekannya menyeruak, menerobos lingkaran turis yang sudah siap dengan gawai masing-masing untuk merekam adegan laga, adu ilmu kanuragan di Candi Borobudur. Tentunya akan sangat epik. Namun kedatangan Yanto dan dua satpam lain membuyarkan semua ekpektasi mereka. Yanto mengelus dada waktu didengarnya seseorang mengeluh, “Yaaahhh… Ra sido deh.”

Menurutmu ini tempat apa? Yanto jengkel. Cagar budaya, atau arena adu ayam?

Usai ikut mendamaikan kedua pihak yang bertikai di pos satpam dengan makanan ringan, teh botol, dan wejangan kepala sekuriti disertai informasi ancaman pidana yang bisa dilayangkan apabila terjadi perkelahian (Pasal 184 KUHP), Yanto berjalan ke area merokok khusus satpam, di tempat khusus yang tidak boleh disebutkan di sini. Di tempat itu sudah menunggu dua kawannya yang tadi ikut melerai. Sebut saja mereka Tonggos dan Brengos, karena salah satu dari mereka punya deretan gigi depan yang offside  dan yang satunya lagi berkumis selebat Alas Purwo kebanggaan Banyuwangi.

YANTO  (kepada TONGGOS) “Rokokmu masih?”

TONGGOS  “Masih, mild tapi. Doyan po?

YANTO  (kepada BRENGOS) “Rokokmu?”

BRENGOS  “Lintingan mau?”

YANTO  “Oke.”

(YANTO menerima kotak isi tembakau dan kertas rokok dari BRENGOS, menjumput tembakau dan cengkeh, menaruhnya di kertas rokok, melintingnya, dan menjepitkan lintingan itu di bibir. YANTO meminjam korek gasTONGGOS lalu dibakarnya lintingan itu. Dihembuskannya asap pertama tebal-tebal sambil mendongak, membentuk kumulonimbus mini di atas kepalanya.)

YANTO  (bermonolog, TONGGOS dan BRENGOS mendengarkan dengan khidmat) “Aku ki sakjane males melerai yang tadi mau kepruk-keprukan itu. Ha mbok sak njepate, sak modare sekalian ndak papa! Biar aja! Jengkel aku! Lagipula, pengunjung-pengunjung candi sekarang itu kok ya le narsis minta ampun. Teko candi, sing dijujug langsung stupa induk. Apa ya ndak mau keliling-keliling dulu, muteri tingkat-tingkat, nonton-nonton relief. Aku ki dudu wong Buddha, dan aku ndak paham itu sebenarnya relief-relief itu ceritanya apa. Tapi rak yo namanya berkunjung ke cagar budaya itu, harusnya menghargai to? Menghargai hasil karya para empu, para pemahat, pemikir jaman dulu. Relief-relief itu bikinnya susah, watu semono akehe, mbok tatah dhewe yo buntung tanganmu! Lha wong candinya itu tidak tiba-tiba dibangun, semalam langsung jadi koyo mbangun kastil neng game onlen kae. Bangunan sak hoha  kae ki dibangun untuk ibadat. Kudune yo pengunjung, apapun agamanya, bisa menghargai kesakralannya, ya to? Minimal rasah alay lah! Rasah ancik-ancik stupa opo nangkring neng pagar langkan, opo nglungguhi patung singa di undak-undakan! Nek meh fota-foto ya biasa wae! Sewajarnya, gantian sama pengunjung lain. Wong ya sekarang teknologinya sudah maju, fotonya bisa diedit. Orang-orang di belakang itu bisa dihilangin, opo diganti kucing po wedhus sisan, sak karepe. Susahnya apa?”

BRENGOS  “Jos.” (mengacungkan jempol, TONGGOS juga ikut mengacungkan jempol)

TONGGOS  (kepada YANTO) “Korekku To, Yanto, kok malah mbok kantongi ki kepie?”
     
Usai merokok, Yanto kembali naik ke halaman candi. Tiba-tiba, entah mengapa, ia merasa begitu letih. Di pelataran candi, ia mencari tempat untuk duduk. Ketemulah satu bangku panjang, di bawah pohon rindang. Di situ sudah ada pengunjung yang lebih dulu duduk, seorang laki-laki bertubuh subur dan berkacamata. Ia tampak khusyuk menatap candi yang masih ramai dikerumuni peziarah milenial.

Yanto melirik laki-laki di sampingnya ini. Sepertinya orang yang enak diajak bicara, pikir Yanto. Ia punya banyak kenalan serupa, bertubuh tambun dan berkacamata, dan mereka rata-rata adalah teman ngobrol yang baik. Contohnya: Mas Dul, pegawai kelurahan bagian administrasi; lalu Pak Yazir, tukang tambal ban truk di Secang, Magelang; kemudian ada Mas Ahmad, tukang kacamata keliling yang dalam kurun waktu tertentu masuk kampung-kampung, menawarkan dan menagih cicilan kacamata secara door to door. Pasti yang satu ini enak diajak ngobrol, batin Yanto.

YANTO  (menyapa) “Mas!”

LAKI-LAKI  (menoleh, menatap Yanto sejenak) “Nggih Mas? Ada apa?”

YANTO  “Sendirian Mas?”

LAKI-LAKI  “Iya Mas, lha wong saya ndak kepikiran mau kesini sebelumnya. Tiba-tiba aja kepingin. Kalau mau ngajak teman, apalagi ngajak cewek, kelamaan Mas.”

YANTO  “Hahahaha… Bener Mas. Kalo ndadak nunggu temen, malah ndak berangkat-berangkat nanti.”

LAKI-LAKI  “Lha iya Mas, hehehe… Apalagi ini saya pikniknya punya misi Mas.”

YANTO  (tertarik) “Misi? Misi apa Mas?”

(LAKI-LAKI itu menunjukkan sebuah buku berjudul “Sutasoma”, karya Mpu Tantular, terbitan Komunitas Bambu. YANTO tertarik, menerima buku itu dari LAKI-LAKI yang tanggap akan ketertarikannya.)

YANTO  “Sutasoma ini ndak sing bikin semboyan Bhineka Tunggal Ika itu to Mas?”

LAKI-LAKI  “Bener Mas. Lha itu misi saya kemari. Misi dadakan sih, hehehe…”

YANTO  (semakin penasaran) “Misinya apa to Mas? Hubungannya sama buku ini apa?”

LAKI-LAKI  (mencondongkan tubuh ke arah YANTO, air mukanya lebih serius) “Di candi ini Mas, ada rangkaian relief yang judulnya “Gandawyuha.” Itu kurang lebih begini Mas, menceritakan perjalanan spiritual seorang pangeran bernama Sudhana, yang mencari kebijaksanaan sejati. Nah, di relief itu diceritakan bahwa dia berjumpa dengan bangsawan, rakyat jelata, bahkan dengan Buddha sendiri. Ia menimba kebijaksanaan sedalam-dalam dan seluas-luasnya dari tokoh-tokoh itu. Namun, dari sekian banyak tokoh, ada satu yang menarik Mas. Ngertos mboten?”

YANTO  “Sopo Mas? Soeharto? Jokowi?”

(Keduanya tertawa ngakak. LAKI-LAKI itu sadar kalau ia terlalu serius, sementara YANTO berhasil mencairkan suasana ruang kuliah dadakan dengan dagelan kere.)

LAKI-LAKI  “Hehehe… Iso-isone Mas. Yang saya maksud itu Mahadewa Mas. Tahu Mahadewa?”

YANTO  “Yang pernah disiarkan film India itu bukan?”

LAKI-LAKI  “Iya Mas, betul. Batara Siwa Mahadewa. Nah, ternyata di Borobudur ini, ada panel relief yang menceritakan perjumpaan Sudhana dengan Mahadewa, yang notabene dewa Hindu. Padahal ini candi Buddha. Rak yo luar biasa to Mas? Di negara-negara lain, bahkan di negara yang mayoritas Buddhis, ndak ada kisah “Gandawyuha” yang seperti ini, cuma di Indonesia thok. Piye, aneh to Mas? Hehehe… Lha itu misi saya Mas. Saya mau foto bait di buku ini yang ada Bhineka Tunggal Ika-nya di bawah relief itu. (membuka buku, dan memperlihatkan bait yang dimaksud) Ini Mas:

Rwāneka dhātu winuwus wara Buddha Wiśwa,
bhīneki rakwa ring apan kěna parwanosěn,
mangkāng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
bhīneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

(Konon Buddha dan Siwa adalah dua dzat yang berbeda,
namun tiadalah tampak perbedaannya,
lantaran kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah satu,
berbeda, namun tetap satu, tak ada kerancuan dalam kebenaran.)

YANTO  “Wooo… Ya ya ya… Paham Mas. Jadi, leluhur itu sudah punya cita-cita persatuan diatas keberagaman, gitu nggih?”

LAKI-LAKI  “Betul Mas. Makanya itu rak yo lucu nek bangsa kita sekarang ini isinya cuma sengit-sengitan satu sama lain, merasa kelompoknya, sukunya, agamanya paling benar. Lucu Mas! (melihat jam tangan) Wah, sudah mau Ngasar Mas, nanti selak sore. Tak naik ke candi dulu Mas, sampai ketemu lagi. (menjabat tangan) Namanya siapa njenengan Mas?”

YANTO  “Saya Yanto, Mas. Njenengan?”

LAKI-LAKI  “Saya Ag… (terdengar bunyi petir menyambar cukup keras, memekakkan telinga, menyamarkan jawaban LAKI-LAKI itu)”

YANTO  “Siap Mas, salam kenal! Sampai ketemu! Monggo, selak udan mas, itu tadi petirnya keras sekali.”

LAKI-LAKI  “Siap!” (berjalan ke arah candi, meninggakan Yanto)

                Laki-laki aneh, pikir Yanto. Datang ke candi, bawa buku, cari relief terus mau difoto bareng isi bukunya? Gusti Allah, iki dino opo to ya? Yanto tak habis pikir. Waktu merokok tadi ia lantang menyuarakan respek terhadap cagar budaya, dan kini ketika ia menjumpai sosok yang ideal untuk itu, dirasanya sosok barusan terlalu berlebihan. Sepaneng banget wong kae, batin Yanto. Mesti rung duwe bojo, pikirnya geli.

                Dipandangnya langit. Masih cerah, belum ada tanda-tanda hujan turun. Tapi tadi ada petir menyambar cukup keras. Ah, pertanda apa pula itu tadi? Yanto menerka-nerka. Biasanya kalau ada petir di cerah hari bolong, akan ada peristiwa besar di negeri ini. Yanto mengingat ucapan almarhum simbahnya. Waktu itu, simbahnya yang asli Jogja bercerita tentang saat meninggalnya Sultan Hamengku Buwono IX di Washington D.C., Amerika Serikat, pada tahun 1988. Meskipun beliau wafat di tempat yang jauh, banyak warga Jogja yang bersaksi mendengar bunyi petir menggelegar di siang hari bolong, di hari mangkatnya Sang Sultan. Padahal saat itu sudah masuk musim kemarau…

***

Pukul lima sore sudah lewat. Yanto masih duduk di undak-undakan Arupadhatu, area puncak Candi Borobudur tempat stupa induk berada, dikelilingi stupa-stupa kecil dalam formasi konsentrik tiga tingkat. Sendirian, ia memandangi senja yang makin merembang sambil mengingat-ingat hiruk-pikuk turis minggu lalu, dan membandingkannya dengan senyapnya pengunjung minggu ini. Yanto teringat sambaran petir di sore yang cerah itu, selepas ia berbincang dengan laki-laki yang membawa buku Sutasoma.

                Benar, ada peristiwa besar di negeri ini, pikir Yanto sambil meraba masker yang menggantung di kuping kirinya. Ia mengambil hand sanitizer dari saku celana, dan diusapkannya ke kedua telapak tangan. Ia sudah mendengar kabar kalau pihak pengelola kawasan wisata Candi Borobudur akan menutup sementara akses masuk candi untuk wisatawan, untuk menanggulangi risiko penularan virus mematikan yang menghebohkan seantero jagad. Yanto termenung. Ia seperti enggan meninggalkan candi itu, pulang ke rumah, bertemu dengan istrinya yang cantik dan melanjutkan proyek Yanto junior. Ada yang aneh denganku hari ini, pikirnya. Rasanya seperti aku mendapat pencerahan, tapi kok mampet ini. Tidak bisa langsung mak byaaarrr…terang benderaaanngg…

“Mikir apa Mas Yanto?”

Kaget, Yanto melihat sekeliling. Tidak ada orang. Suara siapa itu? Ah, mungkin aku sudah lapar dan halusinasi. Bakso enak iki, pikir Yanto sambil membayangkan semangkuk bakso dengan mata terpejam. Satu menit setelahnya, pencerahan itu muncullah.

(suara itu terdengar lagi, jauh di dasar batinnya.)

SUARA  “Mas Yanto, paham sekarang Bhineka Tunggal Ika ya Mas?”

YANTO  (bicara di alam batin) “Hampir paham, tolong jelaskan.”

SUARA  “Siap Mas. Njenengan satpam di candi ini, dan menyaksikan berbagai tingkah polah turis. Ada yang normal, ada yang nyebahi, nggatheli, nganeh-anehi dan segala macam. Saat ini, mereka semua bersatu Mas. Bersatu dalam satu keprihatinan.”

YANTO  “Bersatu dalam keprihatinan? Keprihatinan apa?”

SUARA  “Bersatu ora iso plesir, Mas! Karantina di rumah sendiri-sendiri, gara-gara virus janc*uk iku Mas! Mudheng?”

YANTO (penuh kelegaan) “Ooooooo……. (namun tiba-tiba heran) “Sik-sik, aku tercerahkan tapi kok receh  ngene iki yo pencerahannya?”

SUARA  "Wis to Mas, rasah mbok pikir banget-banget. Sana pulang, ditunggu istrimu. Jaga kesehatan Mas, hati-hati di jalan!”

Yanto berdiri, merentangkan tangan ke atas hingga terdengar suara tulang punggungnya gemeletuk. Ahh, muliiihhh…ujarnya. Sebelum menuruni undak-undakan yang mengarah ke kaki candi, Yanto berhenti sesaat, mengedarkan pandangan ke stupa-stupa di Arupadhatu dan menatap stupa induk untuk beberapa saat. Dengan mata batinnya, ia seperti bisa melihat Buddha di stupa induk itu menyeringai riang, dan tangan kanannya mengacungkan jempol pada Yanto.

“JOSS!!!”

Yanto tertawa geli pada penglihatan batinnya itu. Nek Buddha iso ra sepaneng, kudune aku yo rasah, pikirnya. Dengan langkah ringan, dituruninya undak-undakan dan ditatapnya hari depan dengan optimis.  


LAMPU REDUP

YANTO  “Sik, sik, iki jan-jane prosa opo naskah drama sih??”


LAYAR TURUN.
SELESAI.

 

Karangwaru, 24 Maret 2020
Agathon H.

(penulis adalah penggemar berat candi, terutama Candi Borobudur.
Pernah menyelinap masuk Candi Borobudur tanpa bayar, setelah membeli buku di
bazaar buku Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2019, di Hotel Manohara.)



March 25, 2020 1 komentar



Scene 1

Porthy is on the couch playing his phone when Remmy enters the room.

Remmy : Sup dude! Move, give my ass some space!
Porthy : … (shifts his position a bit but remains silence, playing his phone)
Remmy : Hello! Earth to Porthy!
Porthy : … (remains silence, keep playing with his phone)
Remmy : Ma gawd! You got me talking with the wall again? Oh hey, what’s this? (takes the phone) waw, a new gadget! For me? Omagawd you're so kind!
Porthy : Dude! I was so close to get the diamond! (tries to get the phone)
Remmy : … (give Porthy a scornful look)
Porthy : Come on! Give it back! (tries to get the phone, this time he gets it)
Remmy : I could really use an attention right now! I gotta tell you somethin’.
Porthy : One more step and im done. (continues being serious with the game)
Remmy : Fine! (rolls his eyes then gives the phone)

After the game ended

Porthy : Now what? (looks at Remmy) where’s your glasses don’t tell me you broke it!
Remmy : … (grinning)
Porthy : Again? It’s the fourth time! How can you arrive here? You didn’t drive your motorcycle, didn't you?
Remmy : Wait, who are you again? My mom? Easy Mr. Worry-er, I’m used to it.
Porthy : Whatever. Now tell me whats the gut? I’m busy. There’s another fight I should win. (points his phone)
Remmy : I got match!
Porthy : Finally, no one asks me to borrow it again. Now that you’ve got it, leave me alone with mine and my cigar!
Remmy : Not that matches u-tensils,This match! (points his phone)
Porthy : Ahh, I see. Well god for you! Now lemme play!
Remmy : Not so fast! You are coming with me!
Porthy : Of course! Bye. What? Why? Where?
Remmy : Wow easy dude! TMQ, too much question. Anyway, thanks for being so excited! Now go change!
Porthy : What? No! I’m busy! In the second place, you know online dating isn’t my cup of tea.
Remmy : You’re not busy! Besides, you don’t do the date! I’m the one who is meeting my match! You’ll just escort me meeting my match!
Porthy : But…
Remmy : No but but you butt-less. Go change! (push Porthy away)
Porthy : Fine. (facing Remmy) but you owe me tonight’s dinner.
Remmy : Whatever. Now, go. Go, go, go.

Porthy goes in to the backstage, while Remmy is still in the couch playing his phone.

Scene 2

Porthy and Remmy enter the room of some chairs and tables, chose one and sit. Remmy seems nervous.

Remmy : Gawd, I can’t do this!
Porthy : Keeping saying those words won’t change your reddish face. Remain silence. Play it cool. Now order me something. (take his phone then drown in his own world)
Remmy : … (blows a heavy breath. checks the menu, writes down something on a paper then waves his hand)

A waiter comes and picks up the order.

Remmy : … (checks his phone, then opens his camera to make sure he’s good-shaped. This acts happen over and over) gawd I just can’t help it. I think I better leave.
Porthy : What? No! you’re staying Mr. Worry-er. You get me here, then you have the responsibility not to waste my existence here. finish what you wish or you’ll never swish.
Remmy : But, what if I couldn’t make it? I mean what if I screw it up? What if I’m not good enough? What if my voice’s not deep enough? Oh ma gawd it’s so treble. What if I can’t turn on the convo? Oh ma gawd, what if my mouth smells? Does it smell? (blows air from his mouth)
Porthy : Remmy, dude! Easy on yourself, so that life will be easy on you. Don’t think too much! You’re not facing neither gargoyle nor smaug. You’ll just face a girl. Who knows she’ll be your life-unpartable-partner.
Remmy : Yeah, you're right. But what if she doesn’t make it here? What if she’s different? What if she didn’t use the real picture of hers? What if she intended to catfish me? What if she is a psychopath? Oh gawd, do you bring any pepper spray? Please Porthy, please. I can’t make it. My gut hurts. Let’s just go home. Please.
Porthy : Fine. Only when I have finished my meal. It’s not even come yet!
Remmy : Oh gawd. I’ll screw this up!

Suddenly Arthey comes in to the room, looking around for a while. Remmy is aware of her appearance and starts to be clumsy. Arthey looks toward Remmy whose location is close enough so that he can see her and then wave at her nervously. She glances at her screen phone, then stares at him, takes another look to her screen phone, then smirks and walks approach.

Remmy : Hi! (stands up from his seat, then shakes her hand)
Arthey : Hello! I’m sorry I’m late. Your shareloc missed.
Remmy : Umm, this is a new place, open not long ago, so I think they haven’t established the, umm, you know, the location, umm…
Arthey : Nah, it’s cool. Have you ordered yet?
Remmy : Yup
Arthey : Did you order for me too?
Remmy : Umm, no. I’m sorry, umm, can I make it up for you, what do you want? Coffe? Or something stronger?
Arthey : Easy. It’s okay. I don’t drink coffee, anyway.
Remmy : Oh, I thought… I mean you post some pictures of you at cafe, so I thought, umm, I mean, I’m so sorry.
Arthey : … (gives another smirk. Look at porthy)
Remmy : Oh yeah, this my friend Porthy, Porthy this is my match, Arthey. I mean, my, umm, yeah, you know what I mean, right?
Porthy : … (stands up from his seat, then shakes her hand) hi, Arthey. Nice to meet you.
Arthey : Pleasure is mine. (smiles)

They then sit down on their seat. there is a quiet and seemingly dry pause between them. Then Arthey starts a conversation.

Arthey : It’s quiet here.
Remmy : Well, I’m sure they play some music. You hear it, right?
Arthey : … (smiles) no I mean this place isn’t crowded.
Remmy : Oh, yeah. Umm, this is a new place, so I think they haven’t, umm…
Arthey : Established?
Remmy : … (nods nervously) want to order… (pushes the menu, but the menu pushes Arthey’s phone, then it’s fallen) oh ma gawd, I’m so sorry!
Arthey : Chill, it often falls. (picks the phone up)
Remmy : Umm, I see. (gives a lamenting look)
Arthey : … (look at remmy) don’t have to feel sorry. It’s just an accident.
Remmy : … (wry smiles)

Arthey looks at the menu, writes her order in a paper. Suddenly Porthy stands.

Porthey : I need to go to toilet.
Arthey : Would you mind to give this to the waiter? (gives Porthy the paper)
Porthey : Sure! (takes the paper then walks away)

Another quiet and seemingly dry pause happens. Remmy starts to look at his phone screen.

Remmy : Umm, by the way, I’m glad we meet. Nice to meet you in a way.

Arthey :yeah, me too!

Another quiet and seemingly dry pause. Remmy look at his phone screen again.

Remmy : Umm, why don’t you, coffee, umm, I mean not drink it?
Arthey : Actually I do. It’s just, I’m not getting myself used to drinking coffee so often.
Remmy : Why? acid indigestion? Umm, or ulcer?
Arthey : Nah, I don’t have any of those.
Remmy : Umm, but your feeds? I mean, it seems you often upload latte arts.
Arthey : I’m a barista. I drink 7 cups of coffee every time it’s my shift. I could be a zombie if I order coffee after work.
Remmy : Umm, I see.

The conversation becomes dryer. Remmy look at his phone screen more often.

Arthey : What’s with the phone? Are you okay?
Remmy : What? Oh, yeah, umm, I mean, sure.
Arthey : You seem peeved.
Remmy : … (tap his phone screen secretly, then a ringtone rings) umm, gotta answer this first. It might be important.
Athey : Sure. Make yourself comfortable.
Remmy : … (doesn’t move away from the seat, answers the fake call, and speaks loudly to make sure Arthey hears it) hey! Yeah! Umm, yeah! I’m at life cafe, Why? What? Urgent? An impromptu? Yeah. Yeah. Umm, yeah. Fine, I’ll be there. Yeah, I’ll be there in a minute. Okay, bye, bye, bye.
Arthey : Work?
Remmy : More likely, yes. Crap! Umm, I think I gotta go. I’m sorry I can’t get along. Umm, I’m really sorry.
Arthey : It’s okay actually, but how about your friend?What's his name again? Porthy?
Remmy : It’s okay. He knows what to do.
Arthey : Well, okay then. Are you sure you okay?
Remmy : Terrific! Let’s meet again, umm, I mean, IRL, umm ASAP?
Arthey : We’ll see, boi.
Remmy : Right, okay then. Hello, goodbye, umm, I mean, goodbye.
Arthey : … (only smirks)
Remmy : … (walks away, stops for a while when Arthey speaks)
Arthey : Anyway, when you got the call, your screen seems turning on.

Remmy continues his walk. When Remmy goes the waiter comes carrying their order. Because of he is in hury, he almost bump him. When the waiter’s done serving and left the orders, Porthy comes in to the room, feeling clueless not being able to find Remmy.

Porthy : Hey. Where is he?
Arthey : He’s gone. A work impromptu he said. Quiet an operation.
Porthy : Aw, that’s tough. What a pity!
Arthey : I found it more silly than pity. (laughs)
Porthy : … (wry smilling) anyway, hi.
Arthey : … (only smirks)

They looking at each other then start to having a conversation.

Scene 3

Remmy is laying on the couch burying his head under a couch pillow, Porthy comes in to the room.

Porthy : Where were you?
Remmy : Nowhere!
Porthy : What happened?
Remmy : Nothing happened!
Porthy : But Arthey said…
Remmy : I just needed to go away!
Porthy : What? You made it up? you are chicken!
Remmy : Youre not helping!
Porthy : But Arthey seemed interested to…
Remmy : I don’t wanna talk about it! Get off of my room!
Porthy : This is my room u-tensils!
Remmy : … huaaa (overdramatizing a tear-less cry)
Porthy : You know what? Don’t you do that again! I mean you gotta be brave facing any wildering circumstances. You know, No Guts No Glory!
Remmy : Ugh, borring! move! (stands up, then walks away) you sounds like you come from the past.
Porthy : Where are you going?
Remmy : Glue my glasses, everything seems sucks right know. You know what you seem really know about this online dating thingy! (impersonate Porthy) it’s not my cup of tea.

When Remmy walks away Porthy picks his phone up and do some chatting. A video in projector reveals that he’s chatting with Athey.

Porthy : Hi Punski. :)
Porthy : How’s your journey home?
Arthey : It’s fine.
Arthey : You said it like I was going to timbuktu.
Porthy : LOL
Porthy : Anyway I’m sorry Remmy went away.
Arthey : It’s alright, nothing to be sorry for.
Arthey : Besides, have I mentioned I prefer guy with glasses?

Porthey look at the audience, then breathe a heavy breath while shaking his head.



--------La fin--------

Jogjakarta, 8 november 2018
Lacur Pagi
March 19, 2019 1 komentar


"Sebuah Lakon"

Desa Kalianget 

"Bli, saya pamit mau bermain ke sungai dulu!" teriak Nyoman kepada kakaknya yang sedang melukis di halaman rumah. "Hati-hati, Man. Jangan pulang terlalu sore," jawab kakaknya sembari mengaduk warna hijau saripati daun pandan yang sebelumnya sudah ditumbuk. Bayangan Nyoman cepat sekali pergi menjauh keluar desa ditelan jalan. Ketika mengaduk warna hijau, tiba-tiba saja tetesan berwarna merah jatuh dari hidung kakak Nyoman. Diusap hidungnya dengan tangan kirinya. Merah. Darah mengalir dari hidungnya. Ia letakkan alat lukisnya dan bergegas pergi ke dapur.

"Dewa Ratu!" teriaknya. Tergeletak tubuh ibunya dengan darah yang juga mengalir dari hidung. Matanya membelalak. Keringat ketakutan mulai membasahi wajahnya. Panik. Kakinya gemetar mencari ayah dan juga adik perempuannya. Hasilnya sama. Hanya tergeletak mayat ayah dan adik perempuannya di halaman belakang. Terdengar suara jeritan dari luar rumahnya. Namun belum sempat berlari atau menolong, ia jatuh dan pandangan matanya meredup. Wabah penyakit melanda desa Kalianget.

***

Seorang raja yang memegang kuasa atas beberapa wilayah di Bali Utara turun dan pergi ke desa Kalianget, desa yang terkena wabah penyakit dua hari lalu. Dengan kuda dan iring-iringan sederhana, raja dan beberapa pengawalnya memasuki desa. Kosong. Barang-barang tergeletak rapi di tempatnya masing-masing. Tidak ada bau bangke, bau menyengat dari bangkai daging itu sungguh-sungguh tidak tercium. Seorang Patih dengan badan yang sedikit tegap dan rambut yang terurai berbisik kepada raja,

"Mohon ampun Tuan Raja, tapi ini jelas sekali, wabah penyakit ini adalah aji-ajian dari orang sakti,"

"Tidak salah dugaanku," ucap raja sembari menepuk pundak Patihnya yang paling setia dan cerdas itu, Sawunggaling.

Setelah berkeliling, berhentilah mereka pada sebuah gubug kecil. Yang menarik perhatian raja adalah banyak lukisan-lukisan yang menggantung di dinding tembok berwarna merah bata. Masuk ke dalam rumah, di dalamnya tidak ada yang mewah dan menarik. Kaki raja melangkah semakin dalam, seolah-olah ada sesuatu yang menariknya.

"Hyang Widi!" Patih Sawunggaling dan beberapa pengawal langsung bergegeas masuk ke dalam rumah ketika mendengar teriakan sang raja.

Semua orang terkejut ketika melihat sesosok anak kecil setengah sadar terbaring di atas mayat ayah, ibu, kakak laki-laki dan perempuannya. Tangannya melambai-lambai memanggil raja beserta pengawalnya. Perlahan raja berjalan mendekat. Semakin jelas ia melihat tubuh bocah ini kurus kering dan matanya bengkak yang tersisa hanya ukiran bekas air mata di wajahnya.

"Na..ma..sa..ya...Nyo..man..Ja..ya..pra..na..." hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut bocah yang akhirnya pingsan tak kuat menahan penderitaan hidupnya.

***

Kerajaan Wanekeling, Kalianget

Tumbuh dan besar di lingkungan kerajaan membuat Nyoman Jayaprana semakin menjadi seorang laki-laki sejati. Di sana ia belajar semua hal. Menari, memanah, berburu, dan juga hal-hal yang biasa dilakukan dalam upacara-upacara besar. Jayaprana tidak pernah sendirian. Di kerajaan itu banyak juga anak-anak kecil yang diselamatkan oleh raja dari berbagai desa. Suatu hari raja pernah berpesan,

"Sebaiknya kalian saling menikahlah. Tidak usah mencari pasangan dari luar lagi," pesan ini secara khusus diberikan kepada Jayaprana dan sahabat perempuannya, Made Metri. Made Metri adalah teman sebaya Jayaprana. Mereka selalu bersama-sama. Satu sama lain saling menaruh hati, tapi dalam situasi seperti ini Made Metri malu dan langsung menjawab dengan bercanda,

"Ah saya tidak mau Tuan. Nyoman banyak memiliki penggermar di luar puri, saingannya berat, Tuan!" jawab Made Metri dengan bercanda yang lalu dibalas hanya dengan senyuman oleh sang raja.

Jayaprana bingung. Ada sedikit retakan di hatinya yang ia rasakan. Made Metri menolak menjadi pasangannya, pikirnya kecewa. Demi malam yang semakin bertambah malam, Jayaprana hanya mampu menatap bulan dan merenungi kata-kata Made Metri, cinta pertamanya.

***

Tak terasa semakin bertambahnya umur Jayaprana, membuatnya semakin terlihat gagah. Para patih yang turut andil dalam pembentukan watak dan kepribadian Jayaprana, merasa bangga melihat sosok pemuda yang telah mampu menjadi ksatria ini. Namun tidak bagi Patih Arya Murka yang sedari awal tidak menaruh hati pada Jayaprana. Hanya satu, takut tersaingi.

Seperti biasa, ketika pagi hari, Jayaprana suka bermain ke kota untuk melihat-lihat orang-orang beraktivitas. Melihat pasar yang ramai dengan orang-orang kota bercampur orang-orang desa dengan hasil kebun, ternak, dan buruan. Semua bekerja apa adanya, tanpa aba-aba atau perintah dalam satu komando. Begitu juga halnya pada perasaan Jayaprana yang terpesona oleh seorang gadis yang melintas tak jauh dari dirinya. Seorang gadis berpenampilan sederhana justru membuatnya begitu menarik. Ya, jatuh cinta memang tidak pernah ada aba-aba. Ia datang begitu saja dan terjadi begitu saja.

Gadis itu pergi, namun kaki Jayaprana terus mengikutinya dari belakang hingga sampailah ia pada sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Dari jauh, ia melihat gadis itu masuk ke dalam rumah. Sepengetahuan Jayaprana, itu adalah rumah Perbekel, kepala desa banjar Sekar. Bergegas Jayaprana lari dan pulang ke rumah memberitahu sang raja. Senang bukan main yang dirasakan sang raja dan seisi kerajaan. Dan sebaliknya, sedih bukan main yang dirasakan Made Metri mendengar kabar itu.

Setelah berbincang-bincang dengan Patih Sawunggaling, Jayaprana mulai mengenal lebih dalam dari jauh siapa gadis yang ia cintai itu. Namanya adalah Nyoman Layonsari. Dengan segala mohon, Jayaprana memohon kepada sang raja supaya ia sendirilah yang menulis dan mengirim surat untuk keluarga Layonsari. Sungguh sosok ksatria sejati nampak dalam pola pikir dan tingkah laku Jayaprana, batin raja senang mendengar hal itu. Surat ditulis Jayaprana dengan hati-hati. Di hutan, di kota, di taman, hingga pada malam-malam yang begitu romantis.

Sampai pada akhirnya surat lamaran telah siap untuk ia hanyutkan di sungai menuju rumah kepala desa banjar Sekar. Memang sudah tradisi, mengirim surat dengan sungai sebagai perantara. Tiba di pinggir sungai, dengan penuh kebanggaan dan kebahagiaan, Jayaprana menaruh sebuah botol yang berisi surat lamaranya ke tengah sungai. Tak jauh di belakang Jayaprana, ada tetesan air mata yang jatuh ke bumi dan menggetarkan hati. Made Metri keluar dari balik pohon dengan mengusap air matanya dengan selendang yang melingkar di bahunya.

Jayaprana terkejut melihat Made Metri.

"Sungguh kesalahan apa yang sudah aku perbuat pada Ida Sang Hyang Widi Wasa sehingga kau tidak melamar dan memilih aku, wahai sahabatku Jayaprana," air mata menetes dari mata Made Metri. Jayaprana bingung. Dengan tidak bermaksud mengungkit dan menyinggung Made Metri, Jayaprana sedikit menuduh bahwa Made Metri-lah yang telah lebih dahulu menolaknya ketika masih remaja.

"Kau ini bodoh! Atau memang aku yang bodoh?" bentak Made Metri mendengar argumen Jayaprana. "Perkataanku waktu itu hanyalah sebuah basa-basi. Aku hanya bercanda! Aku bodoh, aku terlalu malu waktu itu untuk mengaku bahwa aku cinta padamu!"

Jayaprana menangis. Perasaan yang selama ini ia buang akhirnya datang kembali seperti sebuah ombak raksasa yang menggulung hati dan pikirannya. Tapi surat lamaran tetap berjalan. Yang ada diantara Jayaprana dan Made Metri hanyalah penyesalan. Dengan segala budi luhur yang agung, Made Metri mengutuk pernikahan Jayaprana dalam penyesalannya.

Byuur! Made Metri menceburan diri ke dalam sungai, membiarkan dirinya terbawa arus begitu saja. Jayaprana lari dan langsung melompat ke dalam sungai mengejar Made Metri. Namun sial, dalam keadaan yang sangat tidak terduga, Jayaprana tidak mampu meraih tubuh Made Metri. Tubuh Jayaprana justru terpental setelah beberapa kali menabrak pinggir sungai hingga membuatnya tak sadarkan diri. Jayaprana justru hanyut di desa banjar Sekar, terpaksa diselamatkan oleh Patih Arya Murka yang ternyata sedang dinas di banjar Sekar.

Dan untuk pertama kalinya, Jayaprana terbangun dengan tatapan pertama melihat wajah Layonsari begitu dekat. Walau masih sedikit kurang jelas, tapi hatinya sudah sangat jelas bahwa ia tidak salah memilih wanita.

Di sisi lain sungai, Made Metri diselamatkan oleh seorang patih bijaksana bernama Arya Sudharma. Setelah sadar, Made Metri menceritakan semuanya pada patih Arya Sudharma. Dengan kebijaksanaan, patih Arya Sudharma mendengar kejujuran berbalut penyesalan dari Made Metri.

***

Pernikahan berlangsung. Sukacita menyelimuti seluruh daratan. Burung-burung terbang mesra, bunga-bunga bermekaran malu, dan daun-daun berguguran bangga. Jika ada yang tidak bahagia, maka hanya ada dua; Raja dan Patih Arya Murka. Sungguh sial, sang raja justru jatuh cinta kepada Layonsari, menantunya sendiri! Kerinduan akan hasrat bercinta tiba-tiba saja muncul hingga membuat raja melupakan Jayaprana. Dan Patih Arya Murka, sungguh sangat tersaingi oleh kepopuleran Jayaprana yang semenjak berhari-hari lalu menjadi perbincangan setiap orang. Rencana dibuat, persekongkolan dimulai.

Masih hangat bulan madu antara Jayaprana dan Layonsari, justru pada suatu malam Layonsari terbangun karena suatu mimpi buruk. Layonsari terbangun dan menangis, Jayaprana memeluknya dari depan dengan tangan mengelus rambut Layonsari.

Paginya, Jayaprana dipanggil untuk menghadap raja karena suatu hal yang mendesak. Sebuah kapal milik Wong Bajo dikabarkan telah memasuki perairan kerajaan. Namun di kalangan para patih kerajaan, Arya Sudharma sudah pernah mendengar isu busuk milik Arya Murka ini. Secara pribadi, Arya Sudharma menghadap raja dan menceritakan bahwa kabar tentang Wong Bajo itu hanyalah akal-akalan dari Arya Murka yang iri pada Jayaprana. Raja yang telah bersekongkol dengan Arya Murka hanya mampu tertawa geli dalam hatinya. Dengan segala kekuasaan, sang raja menahan Arya Sudharma dengan tuduhan pembangkangan dan pengkhianatan.

Jayaprana bersama Patih Sawunggaling dan 40 prajurit kerajaan bergerak menuju sebuah teluk bernama Teluk Terima. Dengan membawa sebuah surat pemberian raja, Patih Sawunggaling merasa sungguh merasa tidak nyaman sepanjang jalan. Namun tugas kerajaan, adalah wajib hukumnya untuk dijalani! Jayaprana pun melaksanakannya sekalipun sang istri, Layonsari, memohonnya untuk tidak pergi.

***

Teluk Terima, Desa Sumber Klampok, Gerogak

Kosong. Kosong. Kosong.

Di Teluk Terima, orang-orang beraktivitas seperti biasa. Isu kapal Wong Bajo yang dikatakan sang raja ternyata tidak ada sama sekali. Tidak mau perjalanan mereka sia-sia., akhirnya mereka memutuskan untuk sekedar beristirahat sejenak di bibir hutan. Sesuai dengan perintah raja, maka Patih Sawunggaling hanya boleh membuka surat yang dibawanya ketika sudah sampai pada Teluk Terima. Patih Sawunggaling yang begitu setia, jujur, dan disegani itu kini remuk hatinya berkeping-keping ketika membaca isi surat dari raja. Bukan sebuah surat biasa, melainkan sebuah perintah untuk membunuh Jayaprana!

Diajaknya Jayaprana menjauh dari perkemahan dan memasuki hutan lebih dalam. Sungguh tak kuasa ia membunuh Jayaprana, seorang anak pungut yang ia temukan belasan tahun lalu. Oh Tuhan, dosa apa yang dilakukan Jayaprana sehingga ia harus dibunuh?

Dalam kebisuan, Patih Sawunggaling menghunusan keris ke punggung Jayaprana. Dengan segala naluri dan kemampuannya, Jayaprana menghindar. Patih Sawunggaling terus menghujam Jayaprana dengan tusukan demi tusukan. Jayaprana menghindar dengan kebingungan. Burung-burung diam membisu. Matahari cemas bukan main.

Patih Sawunggaling jatuh dan berlutut. Ia menyerah. Wajahnya basah terkena hujan air mata yang sedari tad mengalir tak ada henti. Patih Sawunggaling sujud dihadapan Jayaprana dan memohon ampun atas perbuatannya. Menit-menit setelah itu waktu mereka habiskan hanya berdiam. Jayaprana sungguh hancur. Ia kembali mengingat belasan tahun lalu ketika ia dipungut oleh raja dan Patih Sawunggaling. "Mungkin sebaiknya aku mati saja waktu itu," dalam hati Jayaprana menangis.

"Sudahlah Patih, tidak ada yang salah. Semua bekerja sebagaimana mestinya. Jika memang raja menghendaki seperti itu, maka terjadilah. Semesta tidak pernah diam. Silahkan Patih akhiri ini," gemetar tubuh Patih Sawunggaling mendengar perkataan laki-laki yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. "Patih, bolehkah saya menitip pesan untuk kekasih saya?"

Patih Sawunggaling hanya terdiam, namun matanya mengisyaratkan sesuatu.

"Tolong katakan pada Layonsari bahwa saya mati terbunuh dalam perang. Biarkan hanya Patih dan saya yang tau ini semua," kali ini Jayaprana yang berlutut sembari mengeluarkan keris dari sarung kecil di pinggangnya. "Hanya dengan ini Patih bisa membunuh saya."

Lolongan anjing hutan memberi tanda bahwa sesuatu telah terjadi dan akan menjadi sejarah. Wewangian darah Jayaprana mengalunkan aroma sendu. Angin tiba-tiba berhembus menusuk tulang. Patih Sawunggaling kembali ke perkemahan dengan segala luka yang tak akan pernah terobati.

Bekas api unggun hanyalah asap yang mengepul. Orang-orang di perkemahan tiba-tiba lenyap begitu saja. Yang tersisa hanyalah kayu-kayu yang disusun dan digunakan sebagai tempat duduk oleh para prajurit. Tak ada bekas darah. Tak ada bekas pertarungan. Lalu mengapa semuanya menghilang? Ah! Semesta memang tidak pernah diam.

Patih Sawunggaling pulang sendirian. Kadang ia berlari atau berjalan. Namun yang pasti ia sadar bahwa setiap gerak-geriknya ia sadar ada yang mengikutinya. Semak-semak ikut bergerak ketika Pating Sawunggaling berlari. Sampai di sebuah tanah lapang yang luas, Patih Sawunggaling berlutut dengan kedua tangan menyatu di depan dahinya dan berteriak memohon pengampunan kepada Tuhannya, kepada semesta, dan kepada Jayaprana. Angin kencang menyambar Patih Sawunggaling. Melenyapkannya hingga tidak bersisa sehelai pun dosa di tanah.

***

Kerajaan Wanekeling Kalianget

Made Metri terbangun dari tidurnya. Mimpi buruk melintas dalam tidurnya. Tentang Jayaprana, tentang Layonsari. Perasaannya tak pernah sekacau ini. Maka dengan segala kekuatannya, ia pergi ke rumah Jayaprana. Ditemuinya Layonsari hanya duduk terpaku dengan air mata yang bergelinangan. Menyatulah naluri keibuan mereka. Made Metri berjanji untuk membantu Layonsari dengan cara apapun. Ia bangkit, lalu pergi ke istana hendak meluapkan segala emosinya pada orang yang telah memungutnya.

Di tengah perjalanan, Made Metri melihat rombongan istana bergegas menuju kearah rumah Jayaprana. Menghindar dan bersembunyilah Made Metri pada semak dan pepohonan di tepi jalan. Dilihatnya jelas bahwa kedatangan raja adalah hendak melamar Layonsari. Made Metri merasa bersalah. Semua ini berawal dari kutukannya kepada Jayaprana. Maka larilah ia ke istana mencari Patih Arya Sudharma.

Patih dibebaskan, emosinya memuncak mendengar segala cerita dari kejahatan raja dari Made Metri. Abdi setia patih Arya Sudharma dipanggil, dikumpulkan untuk membuat sebuah rencana. Rombongan pasukan akhirnya langsung mengejar raja dan Patih Arya Murka. Perang sudah lebih dahulu teradi di banjar Sekar. Seluruh warga marah. Putri desa banjar Sekar telah terkulai dengan keris menancap di perutnya, darah kesetiaan mengucur deras demi cintanya pada Jayaprana.

Perang saudara terjadi. Orang-orang mulai mengangkat senjata dan mempertahankan kewibawaannya. Darah menyembur hampir di setiap jalan. Tak ada yang tersisa. Yang ada hanyalah mayat-mayat yang bertumpuk dengan segala macam kebencian dan kemarahan. Kerajaan Wanekeling Kalianget berlumuran darah.

***

Setelah bertapa memohon restu. Made Metri keluar dari pertapaannya. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah rumah Jayaprana. Dengan gerobak dan kerbau, tubuh Layonsari dibawanya ke suatu tempat. Sepanjang perjalanan yang dilihat hanyalah bangkai manusia. Made Metri telah mencapai titik kebatinan paling tinggi. Tak ada lagi air mata yang tersisa untuk mengalir dari matanya. Hanya permintaan maaf yang ia ucapkan sepanjang jalan dalam batinnya.

Sesampainya pada sebuah hutan, ia turun dari gerobaknya dan mencari tubuh Jayaprana. Bau wewangian justru keluar dari tubuh Jayaprana yang tergeletak di samping sebuah pohon. Tubuh Jayaprana dan Laonsari dibalut Made Metri dengan kain putih. Tak henti-hentinya doa ia panjatkan di tengah hutan yang begitu sunyi. Ditaruhnya sepasang tubuh itu di atas sebuah batu besar. Mundur Made Metri ke belakang dan mulai mengganti pakaiannya. Walau secara adat dan agama dosa hukumnya jika bersembahyang dalam keadaan duka, namun Made Metri tetap memanjatkan segala kata. Hening. Hanya bibir Made Metri yang bergerak membaca doa.

Usai berdoa, Made Metri lenyap entah kemana. Kepergiannya menyisakan penyesalan yang begitu mendalam. Cinta Jayaprana dan Layonsari tetap abadi. Cinta mereka hidup beriringan dengan sepasang Jalak Bali yang bertengger di ranting pohon, berterbangan dengan angin yang menghembus dedaunan, dan bunga-bunga yang mulai bermekaran di hutan Teluk Terima desa Sumbre Klampok, Gerogak.


Arlingga Urak

Yogyakarta,
12 Desember 2016*


*)Tulisan ini tidak bermaksud merubah sejarah dalam cerita rakyat dari Bali Utara; Layonsari Jayaprana. Ini hanyalah arsip tugas kuliah dan hanya disadur dengan sumber penelitian yang kurang lengkap. Jika terjadi kesalahan alur dan tokoh dalam cerita, saya meminta maaf.
September 14, 2018 No komentar
Older Posts

Undangan Terbuka

Undangan Terbuka

Sedang Disiapkan

Sedang Disiapkan

Tulisan Favorit

  • aku ingin bicara dengan kamu,boleh?
    mas, ini susumu. minumlah lebih banyak biar kamu sehat. aku sangat senang membuatkanmu susu, entah hangat atau anyep, putih atau c...
  • Saksi Bisu — Cerpen
    Pria berkemeja hitam itu melirik arloji di tangan kirinya. Jari telunjuk kanannya mengetuk meja kayu dihadapannya berulang kali. Kakinya ...
  • Pentas Pembacaan Dramatik “Lena Tak Pulang” (2016)
    Pentas Pembacaan Dramatik “Lena Tak Pulang”, 17 September 2016. Pembacaan Dramatik adalah sebuah bentuk apresiasi naskah drama yang ber...

On Twitter!

Tweets by SeriboeDjendela

Created with by ThemeXpose