Seriboe Djendela Blog

facebook twitter instagram
  • Home
  • About
  • Contact
  • Merchandise
  • Label
    • 20 Tahun TSD
    • Panggung
    • Puisi
    • Khas
    • Cerpen
    • Lakon

Dalam remang lampu teplok
Secuil isyarat mengetuk isi kepala
Seketika Ia masuk dalam ruang 7x8 yang temaram
Hitam pantat yang melekat pekat sisa semalam
Akan siap di eksekusi kembali.

"Sayat aku! dan akan ku bakar habis lidahmu"
Beberapa dari mereka telah mati
Menciptakan rasa pada luka demi cinta
Dan semua yang diberikan telah kembali.

Semuanya telah menjadi abu
Beberapa dari mereka masih di atas tungku
Sendok dan garpu tersenyum manis
Dalam balutan jarik tua itu,
Ia siap menghabisi mereka.

Yogyakarta, 24 Maret
Ignatius Tegar.


March 25, 2020 1 komentar
Kata mereka, “Nanti besar mau jadi apa?”
Apakah hewan seperti aku layak punya cita-cita?
Aku hanya bintang kotor
Aku hanya hewan buangan
Hidup dicomberan
Tempat dimana kartu dan alcohol beradu

Alas tidurku dari Koran
Sumber ilmuku dari Koran
Aku makan pun dari Koran

Orang hanya melihat sebelah mata
Orang melihat hanya dari luarnya

Aku hanya binatang rendah
Aku hanya pantas di lindas!
Di dunia aku hanyalah hanya.

Kata mereka, “Nanti besar mau jadi apa?”
Apakah hewan seperti aku layak punya cita-cita?


RenA


March 24, 2020 2 komentar

Malam ini jalanan basah lagi sayang..
Aku lihat sayup-sayup garis wajahmu berbalur ungunya keinginan
Dingin berhasil membekukannya
Namun kabut asap mewakili hasrat ku yang terus menerus mengikutimu
Terlalu tinggi, terlalu muluk
Ahh kusampaikan saja lewat senyum

Musim ini membuatmu tampak lebih kuinginkan dari masa-masa
sebelumnya
Kau menghangat kala sore, lalu membara api kala larut malam
Musik jazz, Sade, dan Trijntje Oosterhuis menjadi pengiringku untuk lagi-lagi membukakan ruang yg penuh kesejukan, dingin, aspal yang basah, kontras, deretan rumah, taman,mekar bunga,
...dan yang jelas semua itu adalah mimpi.
surga karya sendiri.

-Yogyakarta, 3 November 2019
sekar•prima•ndari
November 13, 2019 No komentar

Aku butuh afeksi
Aku rindu menetek pada ibuku
... biar semakin putih, semakin pulih
Kata diriku yang lain
Barusan,
Aku lihat kamu menari-nari di panggung Realino 
Sungguh teramat sangat seksi
Nyeri semua ototku
Sampai-sampai jantung hatiku ikut nyeri
Ehh tau-tau ada simpul senyummu berterbangan dengan sayap namun tak seperti pembalut bersayap
Mengawang-awang bagai filter story instagram
Dan tak lupa 
Keluarlah sekelakar geram
Berbasis bimbang dan dilema
Aku yang menari-nari dengan malas diiringi lagu-lagu dengan nada-nada sialan 
Apakah kau siap,
Jika aku benar-benar menginginkanmu?

- Yogyakarta, 2 Agustus 2019

sekar•prima•ndari
November 13, 2019 1 komentar






mas, ini susumu.
minumlah lebih banyak biar kamu sehat.
aku sangat senang membuatkanmu susu, entah hangat atau anyep, putih atau coklat.
kau cuma perlu susu rasa sulap tanganku.
kau menginginkan susu dariku adalah yang paling aku nikmati sampai saat nanti buntu

mas, gelasmu kosong lagi
sini aku isi
isi aku sini
sini isi aku
nanti kita akan jadi palung laut paling tajam
kita akan saling isi hingga air air asin tambah pekat mengerjai lagi
bahasamu: shipwrecked

-aba

October 30, 2019 5 komentar





Izinkan aku, sayang.

beri aku sesuap kebahagian
dari piringmu, sayang
dengan sendok baru, tolong
bukan dari sendok bekas perempuan itu

izinkan aku tenggelam
di bahumu, sayang
menelusuri bahumu,
mencari sisa sejak perempuan lain.

izinkan aku, sayang.
izinkan aku menghapus
menghapus semua sisa-sisa jejak
jejak lakumu yang begitu lacur.

Yogyakarta, Oktober 2019
-Separat(j)e-

October 27, 2019 2 komentar

Buat apa Tuhan menciptakan pedih,
lalu menurunkannya bagi manusia?
Menghancurkan bongkahan-bongkahan hati
Hancur menjadi kepingan-kepingan

Aku baru saja melihatnya
Hamparan laut kebahagian darimu
yang kau letakkan di atas meja
Meja yang kita gunakan untuk bersua

Aku baru saja merasakannya
Bulir-bulir kenikmatan,
yang kau suapkan dengan sendok itu
ke dalam mulut ku

Hingga pedih menghancurkan kebahagiaan
yang kau letakkan
Menghancurkan nikmat
yang kau suapkan.

Yogyakarta, 8 Oktober 2019
-Separat(j)e-

October 17, 2019 2 komentar

Anila hari ini terasa begitu hangat
Atma dan aksa terasa harsa
Bayang dan pesona tuan terus hadir
 Tuan
Hadirmu membawakan lagu
Bersama birumu yang menenangkan
Senja bersama senyummu
Bagaimana mungkin aku pungkiri keindahanmu
Ahh.. lupakan saja keindahan itu
Yang terpenting itu adalah kamu tuan
Bulan tersenyum saat  tuan menyapaku
Damai bisiknya tuan
Tuan sudah terbenam dalam ulu hatiku
Bersamamu ombakku terasa tenang

Aahh… Tetapi tetap saja semesta belum berpihak

Novita Sari Br Tarigan

October 07, 2019 2 komentar

Jarak, mengapa kau memisahkan
Waktu, mengapa kau meresahkan
Kini aku telah pergi mungkin akan kembali nanti
Dengan kisah baru yang nanti akan aku ceritakan
Dengan kenangan kita yang telah aku rindukan
Rinduku sungguh rindu
Dengan semua kenangan waktu itu
Bertemu pertama kali di sebuah toko buku
Sampai akhirnya menjalin hubungan yang masih tidak menentu
Ku hanya bisa menitip rindu kepada Tuhan
Untuk sosok yang masih sabar menunggu
Teruntuk kamu yang disana
Teruntuk kamu yang menunggu
Jujur, aku rindu
Sampai bertemu di lain waktu

Raikamelinda

October 02, 2019 2 komentar

Aku..gadis yang tak berarti
Setiap malam, aku senang menatap bintang-bintang
Lalu aku menyapanya dengan  senyuman
Aku mulai bertanya pada mereka
Aku mulai mengadu pada mereka
Apakah aku berarti?? Apakah aku berharga?
Itu yang selalu aku lakukan di setiap malamku
Sang bulan seakan turut ingin memberi jawaban
Sang bintang seakan turut ingin menenangkanku
Mereka melihatku menangis
Mereka melihatku menatap mereka penuh dengan harapan
Aku berteriak.....
Tuhan...apakah aku berarti bagi orang-orang terdekatku
Aku ingin menjadi orang yang membanggakan
Agar suatu saat mereka bisa menganggapku ada
Inilah aku dengan kehadiran yang tidak pernah berarti

Raikamelinda

September 20, 2019 2 komentar




malam ini malam terpanjang yang pernah aku coba suruh pulang.


Malam malam ini masih saja suka nikah siri
Diam-diam pergi, punya anak, berlalu tanpa aku mawas diri
Pelikat, aku bersihkan lagi tempat tidurku yang bau anyir khas setelah kucabut napasku melepaskan kamu
Aku kehabisan napas lagi
Malu-malu mencari aroma keringatmu, takut, tapi selalu punya alasan untuk berani
Aku mengutuk lagi dipanku yang selalu bisa membisikanku untuk tidur
Ini malam sedang bercinta dengan lukamu, katanya
Kau biarkan luka memberi dia waktu bercinta dengan seenaknya diatas tubuhmu yang mendekam dengan rasa rindu
Kau membiarkan dirimu dingin beku tanpa selimut
Teganya kau pada seruanmu yang kini sudah parau menunggu ajal menjemput
Kau masih saja punya alasan untuk berduram durja terlarut-larut


Ini malam sudah gila, kataku
Sudah jam 12, tidak juga dia pulang memberi istrinya susu untuk anaknya yang sekian ribu
Sudah jam 12.01, tidak juga jemu untuk meletihkan indraku
Aku masih saja dikutuk rinduku pada pemuda itu
Aku masih saja ingin dicandu
Aku masih saja menunggu
Aku masih saja
Aku masih
Aku
A

Aku berteriak lagi dalam mimpi yang kesekian kalinya
Iya tidak iya tidak iya tidak aku menginjak anak-anak tangga
Berjalan turun hingga dasar yang asing
Ini seperti anak gadis dengan rok besar yang mengikuti kelinci aneh dengan penunjuk waktu itu, aku berpikir sejenak
Aku setel lagi playlist Danilla Riyadi dan mulai kembali diajak melayang
Jauh melintas mimpi buruk
Tentang dansamu yang ribuan kali berputar dengan seorang yang aku kenal
Tentang hatimu yang penuh sesak aku tidak punya cukup ruang untuk bisa menari-nari lagi
Tentang aku yang kini runtuh
−berdansa sendiri dengan kain-kain penuh balur penyembuh luka
Terbirit meninggalkan, jatuh di tengah jalan
Berteriak lagi, makan anggur, makan jamuan
Pipis lagi
Berputar lagi menghibur diri melihat kain-kain jatuh dengan anggun
Memeluk diriku erat, takut tercerai-berai.


-maesaroh
June 18, 2019 2 komentar

Peluh dan lelah selalu ada padamu
Tak lelah kau selalu bekerja
Mencari pundi pundi rupiah
Atau mengurus keluargamu di rumah

Kau tetap selalu menjadi pahlawan bagi kami
Jerih payahmu melahirkan insan ke dunia
Kasih sayangmu selalu melindungi kami dari apapun
Kau tak pernah mengeluh

Selamat bagimu yang telah terbebas dari segala belenggu
Yang telah bebas dari segala penindasan
Segala perjuanganmu akan tetap abadi
Selamat hari Kartini pahlawanku!

Antonius Safir
(TSD 2017)
May 01, 2019 2 komentar

Teruntuk kamu, pujaan hatiku
Yang mungkin sedang bergulat nafsu
Dengan dia yang bukan untukmu

Disini aku, menunggumu
Sadarlah dari impian lalu
Bukan dia pasangan berbagi candu

Aku tunggu, lekuk itu
Derai nafas hembus nikmatmu
Gairah tinggi akan hal tabu

Ditemanin lagu, musik merdu
Izinkan rangsang menderu
Lalu raga biarkan beradu

Pinggul maju, hisap susu
Klimaks meledak seru
Libido puas seiring waktu

P.S
Sleman, 20 November 2018
December 26, 2018 1 komentar


Malam ini, bulan sedang menyiapkan baju baru
dari sepasang mega. Mendung merias wajahnya.

Seorang anak kecil dalam dirimu bertanya apakah
bulan percaya Tuhan. "Lalu agama mana yang dia
peluk?"

Kelak jika bulan pergi sembahyang, maka aku
adalah kemalasan yang memaksamu berbaring
di langit.

Semalaman.


Pusakanagara, Subang
13 Februari 2018

Arlingga Urak.
October 18, 2018 No komentar


sesat rimba gelap gulita
mengakar ku ego nan buta

#

sesat rimba merenggut jiwa
merana ku di jalur nestapa

#

sesat rimba ku ingin pergi kembali
apakah kau buka pintu hati?

#

sesat rimba bantu sadari
kaulah rumah sejati
bintang jatuhku di malam hari

Arya Surya Pratama.
October 01, 2018 No komentar

Dasar.
Mengapa pikiran ini ujungnya padamu?
Padahal desas-desus bilang kamu berlabuh
Di hati yang akan jadi penerus agama moyang agamamu.
Jika begitu, apa baiknya aku biarkan lalu? Atau sejatinya, biarkan kau tahu, lalu kita sama-sama lalu?
Sial, matamu jagad prestasi sang khalik.
Aku berutang syukur pada yang maha-maha.
Sial. Sial. Sial. Terlalu banyak upeti yang aku ingin serahkan kepada sudut-sudut ruang kosong
Yang mungkin telah terisi, tanpa ada yang tahu?
Dan apakah benar kata-kata yang kau sematkan di otakku waktu itu? Atau semua hanya tsunami 100meter pemuas nafsumu?
Siapa kamu?
Kenapa sebentar?
Sedetik aku ingin tahu
Apa kabarmu? Mengapa berubah menjadi purba seperti kandang tempat kau sering lalu itu
Dan apa esensiku menulis panjang sesuatu yang mungkin akan kau lewati tanpa terlebih dulu kau pahami di lini masa. Semoga kau mau berteduh dibawah kata kata ini untuk sepersekian waktu.
Semoga kamu tau.

Brigitta Globin.
September 30, 2018 No komentar

kelaknatan seorang putra
menjauhi sebuah realita
termakan sesak elegi yang menjadi prasa
lalu alur alun senandungnya mati rasa

bukan kenikmatan seorang putra cari
bukan kesenangan seorang putra gali
hanya sebuah pertemuan kecil berarti
kelegaan hidup jantungnya
bersanubari

sa ge sa ba sa da sa la sa tu
ungkap jemah kecil kecap bibir
yang meindu saat taman beradu
mimpi.


ata-
September 21, 2018 No komentar


Ingin bersamamu
Dalam pekat malam
Yang luar biasa biasa saja

Ingin bersama ragamu
Sepersekian detik
Masuk dalam lingkar
Dan mengarunginya

Namun aku bersumpah mampus
Ingin menelanjangi jiwamu
Merobek dan meredam segala perisaimu
Agar dapat bersetubuh
Dalam jiwa yang bukan lagi hantu
Tapi citra dengan sanitasi
Yang tulus terjaga

Aku bersumpah ingin tidur
Dengan tenang malam ini
Dengan cinta digenggam dalam tangan yang terbuka dengan lapang
Agar kita bisa bernapas
Dalam desak dunia yang semakin tipis
Aku ingin di tepi sisi
Agar aku seimbang antara nyata dan mimpi

Brigitta Globin
September 16, 2018 No komentar
Older Posts

Undangan Terbuka

Undangan Terbuka

Sedang Disiapkan

Sedang Disiapkan

Tulisan Favorit

  • aku ingin bicara dengan kamu,boleh?
    mas, ini susumu. minumlah lebih banyak biar kamu sehat. aku sangat senang membuatkanmu susu, entah hangat atau anyep, putih atau c...
  • Hello, Goodbye…
    Scene 1 Porthy is on the couch playing his phone when Remmy enters the room. Remmy : Sup dude! Move, give my ass some space! Port...
  • How Have You Been? — Cerpen
    Yesterday, the sun was so warm. The wind blew delicately and I saw a couple of birds hugged each other. It was very beautiful day to spe...

On Twitter!

Tweets by SeriboeDjendela

Created with by ThemeXpose