TEATER SERIBOE DJENDELA - Komunitas Senthong

TEATER SERIBOE DJENDELA - Komunitas Senthong
Komunitas Senthong

Minggu, 24 April 2016

MALAM KEAKRABAN TEATER SERIBOE DJENDELA DOLAN DESO, BORO(28/02/2016)



SENTHONG, RUMAH KELURGA TEATER SERIBU JENDELA

Dolan Deso, Boro, Minggu (28/02/2016), anggota keluarga TSD bertambah lagi. Acara makrab lintas angkatan dengan klimaks acara ‘pembabtisan’ anggota baru TSD menyisakan kenangan tak terlupakan bagi semua peserta.

                Makrab dan latian alam yang berlangsung selama tiga hari dua malam ini berawal dari hari Jum’at, 26 Februari 2016. Perjalan bersama diawali dari berkumpul di senthong. Berdoa bersama demi keselamatan perjalan di kantin realino dipimpin oleh Mas Dicky, supaya sperpat-sperpat motor beserta pengendaranya selamat sampai tujuan, yang ternyata ketika sampai di lokasi ban motor yang memimpin doa malah kebanan. Namun, masih dengan senyum semangat, akhirnya semua bisa berkumpul bersama untuk mengawali acara makrab di Pendopo.
                Materi latihan alam pertama di hari Jum’at adalah olah rasa dengan Mas Padmo sebagai fasilitator latian. Kegiatan olah rasa ini dilakukan di pendapa terbuka selama kurang lebih satu jam. Muatan materinya adalah untuk menyadari napas dan setiap gerakan otot tubuh. Bentuk latihannya adalah melakukan kegiatan apa saja, bebas, yang ingin dilakukan dengan hening (tanpa bersuara), tetapi setiap gerak tubuh dilakukan selambat mungkin. Setelah latihan diadakan diskusi bersama. Kebanyakan mengalami kendala gerak sehingga ‘kecolongan’ bergerak refleks karena gangguan serangga (semut, nyamuk, dsb).
                Hari kedua materi diberikan oleh Mas Renda. Latihan hari kedua ini dibagi menjadi tiga sesi berbeda. Latian pertama adalah olah fisik yang cukup menguras keringat. Dalam olah fisik diperlukan keberanian bergerak diluar kebiasaan dan menyadari batas-batas kemampuan fisik serta fokus dalam membentuk setiap gerakan. Sesi dua adalah olah rasa. Mulai menyadari dan merasakan benda-benda yang ada dalam imaji untuk dihadirkan secara nyata. Membawa gambaran-gambaran imaji secara indrawi melalui anggota tubuh. Sesi ketiga adalah bentuk simulasi kecil hasil dari olah fisik dan olah rasa pada sesi sebelumnya. Mas Rendra mengajak peserta untuk bermain bersama, ‘teater game’. Sesi tiga ditutup dengan sangat menarik yaitu dengan menggerakan tubuh mengikuti benang yang telah diikat silang-menyilang di antara tiang-tiang pendopo.
                Kegiatan yang cukup menguras tenaga dan pikiran di hari kedua ditutup dengan saling mengakrabkan diri bersama seluruh keluarga senthong. Perkenalan kepengurusan TSD yang baru dan saling mengenal angkatan-angkatan pendahulu yang ikut hadir. Bermain games bersama dan menikmati cemilan malam menambah keakraban satu sama lain. Setelah lelah semua peserta diminta segera tidur untuk mempersiapkan hari esok.
                Keluarga senthong telah menyiapkan acara spesial untuk anggota baru, yaitu upacara ‘pembabtisan’ yang didahului dengan games. Semua anggota baru yang sedang lelap tertidur dan bermimpi dibangunkan pada pukul 02.00 dini hari. Mereka dikumpulkan di lapangan dan diminta untuk menutup mata dengan slayer yang telah dibawa. Kemudian ke-13 anggota baru dibagi dalam tiga kelompok kecil yang telah diacak-acak oleh panitia supaya tidak saling berkelompok dengan teman dekatnya. Lalu satu persatu kelompok dibawa menuju pos-pos secara berurutan.
Pos pertama adalah pos games yang difasilatasi oleh Mbak Puput supaya mereka tidak mengatuk. Gamesnya berupa sambung lagu, jika gagal melakukan misi mereka mendapat hukuman membaca puisi bergantian sepanjang perjalanan menuju pos dua. Hasilnya tidak ada kelompok yang menjawab dengan benar dan akhirnya mereka semua harus bergantian mengulang-ulang membacakan puisi ‘Kakiku luka. Luka kakiku. Kaki kau lukakah? Lukakah kaki kau?’. Pos dua merupakan pos pose yang difasilitasi oleh Kak David dan Kak Toto. Peserta yang masih mengantuk tentu saja kebingungan dalam membentuk pose lurus dan lengkung. Ada juga peserta yang takut mendengar suara imitasi gonggongan anjing dan lolongan serigala Kak Toto serta Kak David. Pos tiga adalah pos Indra yang difasilitasi Mbak Resya. Tiap peserta meminum jamu brotowali yang pahit beserta penawarnya yaitu air gula jawa. Sebelum tiba di pos tiga kelompok mampir dulu di pos bayangan Kak Jo untuk saling berfleksi tentang renungan kegiatan hari itu. Pos empat adalah pos sejarah TSD yang difasilitasi oleh Mas Aga. Sembari menunggu pagi dan kelompok lain menyelesaikan semua pos di pos ini semua peserta sambil menahan kantuk mendengarkan dongeng dari Mas Aga tentang sejarah TSD. Masih dalam keadaan menutup mata semua peserta didukkan di tanah lapang dekat sungai sembari menanti mentari pagi menampakkan sinarnya.
Ketika pagi menjelang dimulailah upacara ‘pembabtisan’. Satu persatu anggota baru berendam dalam air sungai yang dingin dalam keadaan mata masih tertutup untuk menyebutkan nama lengkap dan komitmen untuk TSD di hadapan lurah baru yaitu Mas Bima (Ciu). Setelah selesai mereka disiram maupun dicelupkan seluruhnya ke air sungai yang dingin dan setelah itu bisa membuka penutup mata. Ada satu tambahan ‘pembabtisan’ untuk satu anggota yang tahun lalu tidak mengikuti makrab tapi masih berdinamika dalam proses TSD. Karena ada Mbak Puput selaku lurah periode sebelumnya maka anggota ini dibabtis oleh Mbak Puput sesuai tradisi angkatan 2014. Yang spesial adalah karena di hari itu adalah ulang tahun salah satu keluarga Senthong yaitu Agata Cara. Maka acara pun dilanjutkan dengan menceburkan Cara ke sungai sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Sesudah upacara ‘pembabtisan’ acara berlanjut ke games dan outbound bersama di arena oubound Dolan Deso, Boro. Acara outbound bebas dibuka dengan games brainstroming bersama Kak Toto. Semua dinamika hari itu ditutup dengan sarapan pagi, MCK, dan akhirnya para peserta dan panitia tertidur sampai siang karena kelelahan. Siang hari sebelum pulang, acara ditutup dengan makan siang bersama dan berdoa pulang yang kembali dipimpin oleh Mas Dicky yang penuh ucapan syukur dalam doanya.
Akhirnya keluarga Senthong bertambah lagi. Dengan semua dinamika, proses, seleksi alam, dan segala cobaan yang dihadapinya Senthong tetap menjadi rumah untuk siapa pun yeng pernah bergabung di dalamnya kembali pulang. Kenangan, kecerian, dan kebersamaan dalam satu keluarga Senthong menjadi bagian yang tak terlupakan bagi semua yang masih bertahan mendedikasikan dirinya untuk Teater. Seperti kata Mas Rendra, Teater bukan sekedar seni atau sebutan profesi bagi aktor mencari uang, Tetaer adalah bagian dari kehidupan dan cintailah seolah kamu menjalaninya setiap hari. Makrab keluarga TSD 2016 adalah awal baru bagi semua anggotanya. Senthong rumah untuk beristirahat, kembali, dan menyusun awal baru.

Layung Rahmawati

Sabtu, 11 Agustus 2012

Sebuah Insiden


untuk SGA

tadi malam aku mimpi bertemu Seno,
berbagi isi kepala dan memuntahkan tai-tai interpretasi
tentang jurnalisme dan sastra:
Santa Cruz; Insiden Dili.
Petrus; mayat-mayat bertato yang jadi zombie.
:tentang fakta dan fiksi.
Sastra bicara tentang kebenaran, Seno bilang;
bagaimana bila kebenaran yang selama ini kutahu
pun berasal dari kebohongan yang mengakar?

Widiana Widie
26 Agustus 2008


Menunggu


Jogjaku panas sekali.
Kapan akan turun hujan?
Aku rindu diskusi, diseling gerimis dan teh hangat.
Jogjaku, sumuk sekali.

WidianaWidie
12 September 2008

*Sampai sekarang pun, Jogja masih sumuk.

Selasa, 15 Mei 2012

iseng nulis


      “Akhirnya kalian pulang juga”, terdengar teriakan ibu dari ruang depan. Kemudian suara gerbang kayu depan yang digeser membuka, langkah-langkah beberapa orang terdengar menyusul masuk. Sesuatu yang besar dan berat juga terdengar di dorong masuk. Bunyi seretan yang sangat dikenal itu, koper milik Papa. Dia selalu memakai tas ransel jika hendak pergi dinas atau kunjungan kerja. Papa memang memiliki kurang-lebih tiga buah koper yang hanya dipakai jika bepergian ke luar negeri.
      Kepalaku masih pusing, bahkan penglihatanku serasa bergoyang seperti terkna gempa di beberapa waktu. Kupaksa untuk mengangkat kepalaku dan berjalan menuju pintu kamar.
      “Kamu jadi kurus?”, komentar Mama terdengar lagi. “Apa kamu di sana kekurangan makan?”.
      “Sudahlah, yang penting, Ari kembali dalam keadaan sehat ‘kan?”, terdengar suara Papa menengahi.
      Dalam perjalanan ke ruang depan, sempat berpapasan dengan Om Lukman yang membawakan dua buah koper. Tampaknya, satu milik Papa dan satu milik Ari.
      Semua perkiraanku tidak meleset, telingaku masih lumayan tajam ternyata. Papa berdiri di depan pintu bersama Ari, yang tampaknya baru saja keluar dari mobil. Rambut Papa agak berantakan, karena ia seorang perokok agak berat yang mengharuskan jendela mobil yang selalu terbuka saat tengah melaju. Ari yang jangkung itu tampak lebih kurus dan agak kucel, berbeda dari penampilan biasanya yang penuh gaya dan sangat jantan. Mama perlu mendongak kalau mau menatap wajahnya. Aku beringsut pelan dan berjalan mendekati mereka.
      “Darimana saja? Tiga hari nggak pulang-pulang…”, tanyaku. Mama berpaling menatapku. Papa tampak tersenyum. Ari terkejut, aku bisa melihat sebuah rasa bersalah yang amat besar terpasang di raut wajahnya.
      Papa memberikan koper satu lagi pada Om Lukman untuk dibawa masuk lalu ia berjalan mendekatiku. Tubuhku sekarang sudah cukup tinggi, tak perlu baginya untuk menekuk lutut supaya wajah kami bisa berhadapan dalam satu garis.
      “Bagaimana keadaanmu?”, tanya Papa. Mata Papa agak merah, dengan kantung mata yang lebih besar dari biasanya. Wajahnya yang selalu terawat sekarang tampak gelap dan tidak terawat. Kacamata bulan separo yang selalu membantunya dalam melihat tampak tidak pernah dibasuh, penuh dengan uap air.
      “Dia baik-baik saja”, sahut Mama riang. “Memang masih sering mengeluh pusing seperti vertigo, tapi keadaannya semakin pulih dari waktu ke waktu”. Mama melepaskan pegangannya pada lengan Ari dan berjalan cepat menuju ruang makan. “Akan kusiapkan makan siang, kalian pasti sangat lapar”.
      “Papa perginya lama”, gumamku.
      “Urusan kantor, Nak”, jawabnya sambil menyisir rambutku dengan kepalanya. Ia kemudian menatap agak lama luka di atas keningku yang tertutup perban.
Aku melihat busana yang mereka kenakan, sejenak aku menjadi ragu. Papa berdiri dan berjalan dengan langkah yang dilebar-lebarkan. “Akhirnya sampai di rumah…”, katanya.
      Ari tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri. Kudekati dia dan kupukul pangkal lengannya kuat-kuat, “Aku tahu kalau Papa bohong, kalian nggak ada urusan kantor sama sekali ‘kan? Bilang aja deh…”.
      Ia hanya memandang wajahku sambil tersenyum. Kupukul pangkal lengannya sekali lagi, tapi itu tak berhasil membuatnya membalas pukulanku. Ari yang selama ini sangat enerjik tampak sangat berbeda sekali di hari ini.
      “Kamu sudah sehat, Tam?”, akhirnya ia membuka mulutnya.
      “Masih pusing”, jawabku. “Sejak bangun tidur di RS sampai sekarang di rumah, kepalaku masih pusing. Kadang rasanya muter-muter, Mama bilang vertigo – Bawa oleh-oleh apa nih habis jalan-jalan?”.
      “Jadi, kamu tidak ingat apapun?”, tanya Ari.
      “Ha? Ingat tentang apa?”, aku balik bertanya, Ari malah menjawabnya menggeleng. Ia menarik lengan jaketnya dan menunjukkan sebuah jam yang terikat di lengan kanannya.
      “Ambil saja kalau mau. Aku tidak sempat membelikan apapun untukmu”, katanya sambil melepaskan jam itu dan memasangkannya di lengan kananku. Hatiku langsung girang. Dia selama ini sangat pelit meminjamkan harta kepunyaannya yang melimpah ruah itu, kali ini dengan sukarela membiarkan jam digital layar sentuh kesayangannya itu menjadi milikku. Bibirku tersenyum lebar.
      “Mas Ari, Mas Tama, makan siang sudah siap!”, panggil mama dari pendapa tengah.  Ari merangkul bahuku dan kami berjalan bersama kesana.
      Saat keduanya sudah wangi dan segar setelah mandi, sekeluarga makan siang bersama-sama. Sepertinya, Mama sudah tahu sedari awal kalau Papa dan Ari akan pulang hari ini. Seekor kalkun panggang besar tersaji di atas meja, lengkap dengan lauk-pauk yang lainnya, beraneka macam sayuran sop yang masih mengepulkan asap, tak lupa dengan beraneka macam gorengan.
      Papa dengan gembira, merencanakan sebuah pesta syukuran yang belum ditetapkan tanggalnya. Ucapan syukur atas kesembuhanku dan pulangnya Ari dengan selamat. Belum juga semua rencana itu terlaksana, seminggu kemudian Papa mendadak jatuh pingsan dan masuk rumah sakit. Aku sempat mencuri dengar pembicaraan Mama dan tim dokter, katanya sih gejala stroke…

arch_balthazar

Rabu, 09 Mei 2012

Oleh-oleh dari Solo #2


Oleh-oleh dari Solo #2

Naskah "Mastodon dan Burung Kondor"

Awalnya
 Aku berkunjung ke Kauman, Solo, menemui seorang kakak sepupu. Kunjunganku kali ini masih dalam rangka petualangan teaterikalku di Solo. Ya, kakak sepupuku itu seorang teaterawan sekaligus seorang rapper. Padma Kuntjara namanya. Dia anggota teater Closet, dan bersama-sama dengan Sosiawan Leak telah menjalani beberapa proses produksi. Walaupun kami bersaudara dan sama-sama menekuni dunia teater, kami belum pernah sekalipun berada di atas panggung yang sama, bahkan belum pernah sekalipun berada pada satu proses produksi yang sama. Kami hanya saling mengapresiasi karya kami masing-masing.

Terus terang dia memiliki pengalaman yang istimewa, pengalaman yang selama ini hanya aku pelajari teorinya, pengalaman yang selama ini aku hanya otodidak. Pengalaman itulah yang tadi dia bagikan, dan kini hendak aku bagikan kepada teman-teman semua. Selain itu juga akan aku bagikan beberapa hasil diskusi kami.


Olah Batin di dalam Keaktoran
Tiga bulan lamanya dia menjalani proses teaterikal di Depok, langsung di bawah bimbingan Ken Zuraida (janda Rendra yang ketiga). Dia bertutur selama tiga bulan di sana dia mengalami proses dengan disiplin yang tinggi dan ketat. Kalau aku boleh menggambarkan, proses itu mirip proses di seminari atau (mungkin) pondok pesantren. Dia harus menjaga pola makan, dia harus tidur tepat waktu, dia harus bangun pagi-pagi, dia harus mengolah batinnya. Intinya, dia harus mengolah jiwa-badannya sekaligus. Dia harus disiplin terhadap dirinya sendiri.

Bukan teknik-teknik akting yang diajarkan di sana. Teknik-teknik akting itu diandaikan sudah dikuasai oleh para aktor. Di sana mereka justru lebih mengolah batin. Mereka meditasi, yoga, bahkan ilmu "Bangau Putih". Mereka diajari mengelola energi, baik itu energi mereka sebagai manusia, maupun energi dari alam. Mereka diajari bagaimana mengelola energi manusia mereka harmoni dengan energi alam. Permainan teater merupakan permainan harmoni antarmanusia (antara aktor dengan aktor, antara aktor dengan tim artistik yang lain, antara tim artistik dengan tim produksi, antara gerombolan teater itu dengan penonton), permainan harmoni dengan alam, dan akhirnya mengantarkan para pelaku teater kepada Tuhan. Selain itu, yang tak kalah penting, adalah permainan harmoni di dalam diri aktor itu sendiri. Bagaimana sang aktor mengharmonikan pikiran (imajinasi), rasa (emosi, pengalaman mental), dan tubuh (gesture, mimik). Bagaimana sang aktor mengharmonikan semua itu dengan naskah. Bagaimana dia mengharmonikan kemanusiaannya sendiri dengan karakter tokoh di dalam naskah. Dan sebagainya.

(Latihan semacam ini bahkan mampu menghantarkan sang aktor untuk membuka cakra di dalam tubuh. Dan, di sinilah awal jargon "teater adalah ibadah" itu mungkin berawal.)

Mereka menjalani ini setiap hari, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Padma Kuntjara sendiri menjalaninya selama 3 bulan penuh. Bayangkan, kita hanya berlatih teater 3 jam sehari, 3 hari seminggu. Tentu tidak dapat dibandingkan begitu saja, akan menjadi naif, karena kita masih harus kuliah. Bengkel Teater Rendra di Depok adalah sanggar, padepokan teater. Seluruh atmosfir dan lingkungan di sana dibangun sedemikian rupa sehingga mendukung proses berlatih teater. Kegiatan sekecil apapun di sana merupakan latihan teater. Ya, mereka berlatih teater setiap detik di dalam hidupnya. Menyapu, memasak, menanam, berdiskusi, ngobrol merupakan latihan teater. Kita tidak mungkin berlatih sedemikian "Spartan" mengingat kita harus kuliah, tetapi setidaknya kegiatan kecil-kecil kita dapat kita jadikan latihan teater.


Pendalaman Naskah
 Bukan hanya semata reading. Bukan hanya semata bagaimana membaca indah suatu kalimat. Bukan hanya semata membaca wajar suatu dialog. Akan tetapi, mendalami seluk belum tiap kata di dalam naskah. Sebuah dialog di dalam naskah bisa menjadi sebuah diskusi panjang selama 30 menit atau lebih. Kata "bajingan", misalnya, kalaupun itu ada pada suatu naskah, dapat dikupas sedemikian dalam. Apa artinya. Bagaimana sejarah kata itu. Bagaimana digunakan. Apa konteksnya. Dan sebagainya.

Lebih lanjut adalah bagaimana seorang aktor memiliki dialog itu. Jangan pernah menipu penonton. "Aku laki-laki!" di dalam PADA MALAM YANG ITU hanya akan diucapkan sebagai dusta ketika Wita tidak memiliki kata itu, ketika kata itu hanya diucapkan teknis saja, ketika pada akhirnya Wita tidak mampu memiliki pemahaman yang lebih mengenai Lelaki dibandingkan dengan sebelum dia berproses. Mendustai penonton adalah ketika Diah hanya terjebak di dalam karakter tua nenek, dan belum mampu memiliki pemahaman, setidaknya bagi dirinya sendiri, mengenai apa atau bagaimana itu Waktu. Adalah mendustai penonton ketika Yuni Lundiarti di dalam drama SANG SUAMI mengucapkan "Aku mau cerai dari Mas!" tanpa memahami mengapa ada perceraian ketika orang berbondong-bondong menikah. Contoh-contoh lain dapat kita cari di dalam proses-proses kita sebelumnya.


Tegangan Antara "Teater adalah Ibadah" dengan "Industri Teater"
Sebagaimana kita dulu mengalami gegar budaya mendengar istilah "menjual seni" dari Pak Ikun SK sewaktu proses Tobong Kosong di dalam FTJ 2011, kakakku sendiri pun mengalami hal yang sama mendengar istilah "bisnis teater" di Depok itu. Rasa-rasanya, kita membisniskan jiwa kita, kita menjadi buruh seni. Kita waktu itu pun tak kalah terluka ketika kelompok teater dengan sponsor terbanyak yang justru dimenangkan, bukan teater dengan manajemen produksi yang baik sehingga surplus. Seiring berjalannya waktu kami (aku dan kakakku) menjadi realistis. Teaterawan juga butuh makan! Banyak teaterawan yang harus menyambi berdagang sesuatu atau malah menjadi PNS semata agar dapat makan. Mereka menghidupkan teater, tetapi teater tak mampu menghidupi mereka. Namun, kami mengambil konsekuensi yang berbeda dari sikap realistis kami itu. Padma Kuntjara mengambil sikap bahwa manajemen produksi (industri teater) bukan bagiannya. Bagiannya adalah perihal artistik. Maka, dia akan menangani artistik ini tanpa sedikitpun menyentuh bidang produksi sebab sudah ada orang yang lebih kompeten untuk itu. Dia yang menciptakan karya, biar temannya yang menjual. Sedangkan aku pribadi akhirnya sedikit-sedikit belajar tentang bagaimana menjual teater itu kepada masyarakat, bagiamana merangkul penonton, sehingga kelompok teater itu bisa makan dari sana. Kedua konsekuensi yang kami ambil itu merupakan usaha untuk di satu sisi tetap menjaga idealisme "teater adalah ibadah", dan di sisi lain merintis "industri teater". Konteks berpikir kami tentu adalah masyarakat lokal Surakarta, tempat kami besar. Sedangkan, Dody Eksha, di lain hari, pernah membahas hal yang sama dengan konsekuensi yang berbeda, yaitu manajemen teater harus dikelola oleh orang manajemen yang benar-benar profesional menangani masalah itu, bahkan sebisa mungkin seorang manajemen yang bukan seniman (tetapi memahami/mampu menikmati seni teater).


Akhirnya
Akhirnya petualangan teaterikalku di Solo harus berakhir malam ini. Itu sedikit oleh-oleh yang dapat aku bagikan. Semoga dapat berguna bagi proses Seriboe Djendela. Besok aku harus kembali ke Jogja, menyelesaikan Jean-Paul Sartre yang tak kunjung selesai. Doakan kami, semoga aku dan Padma dapat berproses bersama di atas panggung yang sama, dan mungkin di dalam gerombolan yang sama pula, kelak. Sampai jumpa, Senthongers :) Padmo "Kalong Gedhe" Adi

Oleh-oleh dari Solo #1



Oleh-oleh dari Solo #1

Kemarin aku berdialog dengan pekerja film (FTV). Dia teaterawan juga, sekaligus buruh seni. Kami bertukar pikiran, walau sebenarnya aku yang lebih banyak ngangsu kaweruh. Dari perbincangan di warung susu itu, aku menyimpulkan:

1.) Sekarang sudah bukan zamannya seniman menanti wahyu turun dari langit

2.) Sekarang seniman harus giat, disiplin, dan kreatif. Wahyu dari langit jangan diharapkan turun, tetapi diunduh sendiri.

3.) Dan, di dalam mengunduh wahyu itu, sang seniman harus bersih. Bersih raganya (mandi, atau setidaknya sehat). Bersih pula jiwanya (entah rohani, spiritualitas, maupun psikologis, dan mental). Bukan hanya aktor yang membutuhkan ketenangan batin sebelum bermain di atas pentas, seorang pelukis sekelas Leonardo da Vinci pun mewajibkan para pelukis menenangkan jiwa-raga sebelum melukis.

4.) Rendah hati. Perspektif liyan, meski pahit sekalipun, selalu bisa kita pakai untuk membangun diri.

Kemudian petualangan teatrikal saya di Solo berlanjut pada malam yang itu (2 Mei 2012, maksud saya). Saya menghadiri pagelaran Temu Teater Remaja se-Jawa Tengah. Ada dua pementasan. Namun, sesi dialog setelah dua pementasan itulah yang hendak saya bagikan. Ada beberapa teaterawan kawakan (sudah neater sejak 1970-an, bahkan lebih) yang memberi komentar karya anak-anak remaja itu. Mereka antara lain mBak Lawu, Pak Dedek (beliau salah satu aktor Rock Opera Ken Arok, Harry Roesly, tahun 1970-an, http://www.youtube.com/watch?v=GCu0yp1d850), dan Pak Halim HD. Mungkin beberapa Senthongers sudah pernah mendengar nama mereka atau melihat karya mereka.


Mereka membagikan ilmu kanuragan teater mereka kurang lebih sebagai berikut:

1.) Salah satu indikasi pementasan itu berhasil adalah ketika pertunjukan itu paripurna, penonton berada pada suasana "bahagia". Mereka puas (kalau saya sendiri merasakan, perasaan itu semacam rasa kala sehabis bercinta). Bahkan, kalaupun pertunjukan itu adalah tragedi, dan mereka sampai menangis dibuatnya, mereka tetap akan bahagia di akhir pertunjukan, hingga bertepuk tangan riuh, atau berteriak "bravo".
Namun, suasana seperti ini jarang. Saya sendiri pun jarang mengalami. Kenapa?

2.) Karena kelompok teater itu boros energi. Di dalam setahun mereka dapat melakukan lebih dari 2, 3, atau 5 pementasan dengan judul yang berbeda. Pak Halim HD menyebutnya, kelompok teater yang mementaskan lebih dari 5 reportoar berbeda. Kelompok teater seperti ini akan mudah kehabisan energi, kehabisan pula daya kreatifitas, bahkan tidak pernah "memiliki" reportoar yang mereka usung sendiri. Reportoar itu hanya berlalu tanpa membekas.
Rock Opera Ken Arok sendiri, seturut kesaksian Pak Dedek, merupakan karya dari hasil proses selama tiga tahun. Dari latihan vocal, tari, fisik, keaktoran, dsb., hingga pentas kecil-kecil di kampung-kampung, sampai akhirnya pentas akbar di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.
Pasar Pahing - Lapak Tilas bisa menjadi contoh yang cukup bagus dan sangat eksistensial bagi TSD.

3.) Karena sering gonta-ganti lakon, kelompok teater itu tidak memiliki waktu yang cukup untuk menggali suatu naskah. Sehingga, pertunjukannya ya hanya begitu-begitu saja. Mung kaya ngono wae. Bahkan, elek wae durung.
Sebuah naskah itu bisa digali sedemikian dalam, bahkan memerlukan penelitian dan observasi. Apa lagi, naskah itu naskah realis. Bukan hanya doktor dan profesor saja yang dapat menjadi peneliti, seorang seniman pun boleh, bahkan harus, menjadi peneliti. Leonardo da Vinci, sekali lagi saya jadikan contoh, menghabiskan banyak waktu untuk meneliti tangan manusia, hanya untuk membuat lukisan tangan yang realis.
Proses yang panjang itu akan membantu memanunggalkan naskah/reportoar/lakon dengan kelompok teater tersebut. Jadi, sebelum manunggaling teaterawan kalawan penonton pada waktu pagelaran, kelompok teater itu harus manunggaling teaterawan kalawan lakon terlebih dahulu di dalam proses yang tidak pendek.

4.) Ketika kelompok teater dengan lakon itu sudah nyawiji, manunggal, mereka akan dengan mudah merespon ruang. Di mana pun naskah itu di mainkan, entah di Aula Mrican, entah di panggung terbuka TBY, entah di Societet TBY, entah di LIP, entah di TA TBS, entah di TK ISI Solo, entah di TIM, kelompok teater itu akan dapat memainkannya dengan optimal.

5.) Dan, permainan yang optimal itu bukan permainan satu orang saja. Bahkan, monolog pun tetap bukan kerja satu orang saja. Tetapi justru merupakan permainan ansambel. Permainan bersama. Pagelaran segenap anggota tim teater itu. Maka, semua unsur harus saling memercayai.

6.) Serta, tak lupa, selalu berikanlah ruang imajinasi kepada penonton. Mereka bukan orang imbesil yang tak mampu menggunakan daya mental dan reflektif mereka.


Ehm, kira-kira ini oleh-oleh saya dari Solo. Kalau ingin langsung mendengar dari orang pertama, saya undang untuk menghadiri Temu Teater Remaja pada hari Kamis (hari ini) dan besok Jumat (3 dan 4 Mei 2012) pk 19.00. Bisa bermalam di rumah saya kalau bersedia ;)

Salam bu(d)aya XD
Padmo "Kalong Gedhe" Adi

Angkatlah Wajahmu, Hai Anak-anak Garuda!


Angkatlah Wajahmu, Hai Anak-anak Garuda!

Lihatlah di sana
mereka berbaris, berderap
membawa pedang, gobang, dan pentungan
sambil memekikkan nama Dewa Perang mereka

Di dalam nama Tuhan
mereka memukul dan melibas
tanpa ampun mereka membunuh dan menindas
semua yang mereka musuhi dan benci harus tunduk

Tuhan mana yang mereka teriakkan itu?
Dewa Perang mana yang mereka bawa-bawa itu?
Segala sesuatu yang berbeda dengan mereka harus mati
Segala sesuatu yang tak sama dengan mereka harus tiada
Segala sesuatu yang tak seragam harus bungkam

Mereka menumpahkan darah kita ke atas wajah pertiwi
Mereka membantai saudara-saudara kita di tanah air tercinta
Mereka membungkam mulut-mulut kebenaran yang merdeka


Kita anak-anak pertiwi
Kita anak-anak merdeka
yang lahir dari rahim Garuda
dari kemerdekaan kita dilahirkan
dari kebebasan kita dibesarkan
kemerdekaan yang dibayar kakek moyang kita dengan luka
kebebasan yang dilunasi kakek moyang kita dengan nyawa

Luka kakek moyang kita belum jua kering
Pekuburan kakek moyang kita masih jua basah
Namun, kita hendak kembali dijajah
Kemerdekaan dan kebebasan hendak kembali direnggut

Kita anak-anak Garuda tidak takut
Sang Hyang Mahaesa menyertai
Kemanusiaan kita tegakkan kembali
Kita bersatu melawan mereka
Hyang Bijaksana telah siap semimpin rakyatnya
Dan keadilan akan kembali tegak di atas wajah pertiwi

Bersatulah anak-anak Garuda
Kita adalah anak-anak merdeka
sedangkan mereka hanyalah boneka
 
Angkatlah wajahmu, hai anak-anak Garuda
pedang, gobang, dan pentungan hanya melukai tubuhmu
tetapi tidak dengan jiwamu
Mereka hanya mampu melukai badan
tapi tak mampu membungkam mulut kebebasan!

Angkatlah wajahmu, hai anak-anak Garuda
keberingasan mereka memang mengerikan
Dewa Perang mereka memang terlihat menakutkan
Tetapi Sang Hyang Mahaesa akan berperang di sisi kita
bersama-Nya kita pertahankan kemerdekaan

Jikapun kita akan mati
membela kemerdekaan dan kebebasan
serta secuil kemanusiaan
kita akan mati sebagai orang merdeka
bukan hidup sebagai budak mereka!

08 Mei 2012
Padmo “Kalong Gedhe” Adi