Seriboe Djendela Blog

facebook twitter instagram
  • Home
  • About
  • Contact
  • Merchandise
  • Label
    • 20 Tahun TSD
    • Panggung
    • Puisi
    • Khas
    • Cerpen
    • Lakon


Senin, 1 Oktober 2018

Pada malam hari ini saya mengikuti latihan UKM TSD. Materi yang dibahas pada hari ini adalah olah vokal. Olah vokal kali ini berbeda dengan olah vokal pada umumnya, cara bergerak, cara nafas, dan mengolah otot bagian tubuh pun tidak kalah penting. Untuk mengawali atau mendasari latihan olah vokal, kami memulainya dengan pemanasan seperti biasa. Kemudian kami masuk ke materi inti yaitu olah vokal.

Latihan yang diberikan adalah dengan senam atau berolah raga dengan bagian perut. Segala sesuatu latihan yang berhubungan perut dilakukan. Mulai dari metode Suzuki, sudut, dan lempar kaki. Mungkin hanya sedikit latihan yang dilakukan. Namun dari ketiga latihan tersebut ada beberapa alur yang harus dilalui sehingga seakan gerakan yang sama diulangi beberapa kali. Tujuan latihan itu adalah melatih otot perut yang dimiliki para aktor.

Mengapa itu perlu? Karena pada nantinya, seorang pemeran harus bisa mengucapkan dialog dengan menggunakan teknik pernapasan perut. Ketika otot perut sudah terbiasa, maka akan mudah bagi pemeran untuk melakukan pernapasan perut.

Setelah latihan pengolahan otot perut, sutradara menambahkan latihan pernafasan. Ada dua jenis pernafasan yang saya ikuti, yaitu nafas anjing dan mengendalikan tempo nafas saat berjalan. Seperti diketahui bahwa ketika anjing bernafas rata-rata menjulurkan lidah dan telihat terengah-engah. Hal yang sama saya lakukan. Terlihat mudah namun sulit karena nafas, gerakan perut serta suara terengah-engah harus bisa keluar berirama. Setelah latihan nafas anjing selesai, lanjut pada mengatur tempo nafas saat jalan.

Ketika sutradara berkata “dua”, maka kami diharuskan untuk menarik nafas selama dua hitungan dan membuang nafas selama dua hitungan juga. Hitungan tesebut dilakukan menggunakan kaki (berjalan). Contohnya ketika berkata dua, maka kita melangkahkan kaki kanan-kiri sembari ambil nafas dan kanan-kiri untuk buang nafas. Ketika tiga berarti kanan-kiri-kanan dan dibuang kiri-kanan-kiri. Tempo yang dilakukan seirama dengan langkah kaki. Saya pun melakukan variasi langkah. Ada yang saya buat langkah cepat dan lambat.

Materi terakhir olah vokal yang saya dapatkan adalah intonasi. Di dalam intonasi ada empat komponen yang harus dipahami, yaitu jeda, tempo, timbre, dan nada. Keempat ini merupakan hal yang sangat penting juga untuk seorang pemeran. Dengan adanya intonasi penonton bisa tahu dialog yang diucapkan tokoh mengandung muatan emosi sedih, senang, marah, jengel, atau yang lainnya. Ketika intonasi dalam naskah tidak ada maka hanya seperti membaca buku atau berita saja. Saya mendapatkan materi yang membuat saya tertarik.

Saya ada kesulitan dibagian timbre. Bagian timbre ini menurut saya paling seru namun juga paling sulit diatara ketiga komponen lainnya. Saya sebelumnya juga belum pernah mengetahui timbre yang ada dalam pementasan. Namun saya tetap belajar untuk memahaminya.

Leonardus Dwi Cahya Nugraha (Cahya).
October 18, 2018 No komentar

Hari itu, Rabu 19 September dua tahun setelah tahun kabisat ke 504, delapan orang berkumpul pada sepetak panggung benderang di jantung sebuah kompleks kampus berumur hampir 13 lustrum di Jogja. Mereka yang mengaku hidup ini (yang kemudian diketahui adalah mahasiswa) mengawali kefaedahan hidup mereka pada tahap awal sebuah pentas. Keluarga Mochtar tajukya, Unit Kegiatan Mahasiswa wadahnya, dengan Sanata Dharma kampusnya. Mereka bersama menyatukan asa untuk pentas pada awal dari akhir tahun yang mereka jalani, 1 Desember tepatnya.

Ada satu bagian dari mereka tak tampak hari itu. Lepas dari itu, mereka tetap melangkahkan kaki mereka, menginjak setapak awal dari jalur kecil bernama proses latihan keaktoran. Dari situ, dan sejak saat itu, dunia mereka terjamin tak akan berada sama seperti pijakan sebelumnya.

Matahari telah melela untuk pergi saat itu. Saat dimana satu demi satu bagian mereka melengkap. Ada huru-hara pada titik dimana mereka berkumpul. Kemudian kita tahu terjadi sebuah peristiwa teater bernama kelas workshop keaktoran bertema perspektif ruang, terjadi di sana.

Bagian lain pada wadah mereka rupanya melakukan perjalanan pada jalur yang tak serupa dengan mereka. Sebagian menggubah bentuk wadah, sebagian mempercantik, dan menata ulang wadah tersebut. Yang lain, melinglung bingung mau meninbrung.

Tak lama jarum panjang berlari. Mereka, para mahasiswa yang kemudian kita ketahui adalah -mengutip dari seorang sutradara pentas semi ketoprak- ujung tombak sebuah pementasan teater, memisahkan badan, membagi-kecilkan diri mereka, berpisah dari wadah.

Di panggung itu, para ujung tombak berdiri. Mengutarakan doa pada empunya semesta jadi pilihan mereka sebelum memulai pergelutan raga dan batin mereka. Lepaslah iringan surat keilahian itu ke semesta, mereka lalu memulai perjalanan mereka. Bergerak abstrak lemaskan badan, lalu memanaskan badan mereka lakukan.

Berbagai macam suara, hentakan, rintihan, keluhan, hingga makian terlempar keudara dari masing bagian mereka. Bentuk-bentuk tak umum mereka buat dengan bahan tubuh mereka. Berdiri, duduk, terlentang tengkurap, hingga menggulung, mereka formasikan. Badan terebah dan tangan mengatup pada dagu jadi tanda penghangatan tubuh mereka usai.

Masing-masing lalu mempersiapkan beberapa lembar kertas sarat drama yang menyatu menyerupai buku, yang lalu kita ketahui adalah naskah, yang berisi nyawa mereka dalam bentuk yang dapat disentuh, yang kemudian akan mereka lahap dalam proses permersatuan nyawa insan dalam naskah dengan daging mereka. Satu bagian demi bagian lalu mengangkat nyawa itu ke udara dengan suara mereka. Masing-masing dengan cara mengangkat yang berbeda.

Lepas tiga kali kuartal jam berselang, semua nyawa habis terlempar. Tanda sidang paripurna mereka dimulai. Sidang yang dilakukan danging-daging itu dalam upaya menyatukannya dengan nyawa tadi.
Angka kembar hampir tercipta pada sebuah jam analog hari itu saat mereka memutuskan untuk mencukupi perjalanan hari itu. Lalu bagian-bagian itu menceraikan diri dan membagi-kecilkan lagi diri mereka, untuk sejenak mengambil jalan yang lain dan akan kembali melanjutkan perjalanan awal mereka di jalur itu.

Chresna Evan
Jogjakarta, 25 September 2018 - 23:23
October 01, 2018 No komentar


“Aduh, badan gue sakit-sakit”
“Gila, betis gue serasa ditarik”
“Hampir lupa gue sama materi yang tadi, udah jarang banget kaya gitu!”
Itu adalah pikiran yang datang di masing-masing pelaku latihan hari Senin, 24 September 2018 kemarin di Gedung Kampus 1. Materi latihan hari itu, olahraga. Raga, salah satu aspek yang kami kembangkan untuk proses mendalami naskah ini nantinya. Selebihnya ada olahrasa, olahvokal dan olahpangan. Oh tidak, kami tidak menyentuh bagian pangan. Itu bagian yang sudah dikondisikan.

Seperti biasa, latihan dimulai pukul 18.00 Waktu Indonesia bagian Senthong kalau saya menyebutnya heuheuheu. Semua tahap latihan yang Bapak Sutradara dan asistennya berikan berhasil kami lewati dengan baik. Banyak ide dan perasaan baru yang menjadi dampak latihan saat itu. Pegal-pegal dan cara mengantisipasi pegal-pegal, contohnya.

Setelah nge-gym, kami pindah "stasiun". Kami pindah ke Beringin Soekarno. Beringin yang pada masa itu benar-benar diresmikan oleh Bapak Soekarno (Alm.). Tempat yang tidak asing lagi untuk akamsi (anak kampung sini) kampus Mrican. Tempat yang nyaman dengan daun-daun lengketnya, tempat yang nyaman dengan gazebonya, tempat yang nyaman dengan fasilitas angkringan lompat. Kenapa angkringan lompat? Karena ada pagar tinggi yang menghalangi pedagang dan pembeli di dalam area Beringin Soekarno untuk bertransaksi. Transaksi bisa diakses melalui sela-sela pagar, tapi muter jauh, atau tidak yaaa… melompat.

Waduh, molor jauh. Seharusnya saya tidak perlu membahas tempatnya. Tapi karna kami suka tempat ini, suasananya yang jauh lebih baik daripada di pinggiran jalan, ini sangat membantu kami untuk mendalami peran kami masing-masing. Pada malam itu, kami membahas tentang beat. Apa itu beat?

Menurut pemahaman saya, beat disini semacam transisi atmosfer yang aktor tunjukan pada setiap dialog atau adegan, hasil penginterpretasian naskah oleh aktor, sutradara dan asistennya. Beat ini sangat membantu kami untuk memainkan ”tangga dramatik” sebuah naskah.

Setelah kami berhasil mencari dan menentukan beat, kami lanjutkan dengan pendalaman peran dengan metode "naskah nol". Muncul informasi baru bagi kami; siapa kamu, apa kamu, sedang apa kamu, dimana kamu, bagaimana kamu. Salah satu bagian yang paling saya suka, memahami satu sama lain.

Kejadian di Beringin Soekarno ini begitu hangat. Bayangkan saja, semua saling menanggapi, semua saling memberi dan mendengar masukan. Hangat bukan? Semua akan kami buat hangat; malam ini, malam besok, dan malam selanjutnya.

Robertus Hari Purnomo, Kelas Metopen, 16.47, Capek.
October 01, 2018 1 komentar

Rabu, 26 September 2018
Pada malam hari ini saya mengikuti latihan dalam UKM TSD. Pada latihan hari ini, saya diberikan materi mengenai olah tubuh. Awalnya kami melakukan pemanasan dengan berlari, berjalan dengan tumit, bagian luar telapak kaki, dan bagian dalam telapak kaki. Dari hal tersebut kaki saya terasa tidak kuat ketika berjalan dengan tumit. Mungkin bisa dilihat bahwa tumit yang dimiliki itu cukup tebal. Namun bagi saya untuk berjalan dengan tumit, saya merasa tidak kuat untuk mejalani dengan waktu yang lama.

Kemudian setelah kami berlari seperti tadi, kami melakukan pemansan badan. Pemanasan ini membentuk formasi melingkar. Kemudian secara bergilirian kami memberikan instruksi dan hitungan. Setelah pemanasan, kami dibagi menjadi dua kelompok kecil. Di kelompok tersebut saya diberikan materi mengenai level. Level disini bukan seperti level papan atau level letak panggung.

Namun level disini adalah jalannya. Dari yang awalnya berdiri, kemudian berjalan seperti menuruni sebuah tangga. Sehingga lama-lama badan saya seperti turun ke bawah. Di pelatihan ini paha kaki saya yang kena. Maksudnya paha kaki saya yang paling pegal. Setelah selesai latihan tersebut saya melanjutkan diskusi dengan beberapa teman lain yang akan melakukan pentas di beberapa bulan ke depan.

Kami berdiskusi di sebelah pohon beringin Pascasarjana Universitas Sanata Dharma. Di sana kami melanjutkan pembahasan kami yang belum selesai di hari Senin, yaitu beat. Beat dalam naskah berarti perpindahan atmosfer yang terjadi atau emosi atau topik pembicaraan. Beat tidak bersifat permanen sehingga bisa diganti sesuai dengan kesepakatan bersama dengan kelompok serta sutradara atau astrada.

Pembahasan beat tidak semudah melihat “oh di sini ada konflik jadi di sini ada beat” atau “di sini membahas topik yang berbeda jadi ada beat yang berbeda juga”. Namun menentukannya perlu dengan membaca berulang-ulang agar mengerti benar hal yang dimaksudkan oleh naskahnya.

Setelah saya dan kelompok saya selesai, kami melanjutkan perbincangan mengenai latar belakang tokoh yang akan diperankan. Pembahasan yang sangat menyenangkan bagi saya. Hal tersebut membuat saya menjadi tahu tokoh yang akan saya perankan seperti apa. Kemudian pembahasannya juga cukup ekstrem karena saya juga harus berpikir dengan detail apa yang sudah diucapkan oleh teman saya yang lain. Keseruan tersebut membuat saya sangat antusias.

Leonardus Dwi Cahya Nugraha (Cahya).
October 01, 2018 No komentar


Main teater itu ternyata engga bisa sembarangan main aja. Banyak hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan setiap detailnya. Salah satu hal atau unsur yang perlu diperhatikan baik-baik adalah tangga dramatika. Sebuah pertunjukkan teater tanpa memperhatikan tangga dramatika kayaknya kurang asik aja gitu. Kurang ada naik-turun muatan emosi yang bisa membuat penonton emosi atau perasaannya juga naik-turun saat menonton pertunjukkan tersebut.

Setelah mengikuti kelas keaktoran tentang tangga dramatika yang diselenggarakan oleh Teater Seriboe Djendela pada Jumat, 21 September 2018 saya jadi punya beberapa pengetahuan baru tentang tangga dramatika yang selama ini tidak saya dapatkan pada proses-proses sebelumnya. Sangat menarik menurut saya bisa mengenal lebih dalam tentang tangga dramatika. Apalagi, saya pribadi baru tahu kalau tangga dramatika memiliki urutan, yaitu eksposisi, komplikasi, klimaks, resolusi, dan kesimpulan. Selama ini saya pikir tangga dramatika hanya sekedar permainan emosi atau perasaan dalam sebuah pertunjukkan teater saja. Namun ternyata ada urutan atau elemen di dalam tangga dramatica yang secara tidak langsung bisa memberikan kontrol seberapa tinggi tensi emosi atau perasaan pada bagian-bagian tertentu.

Selain urutan dari tangga dramatika yang baru saya ketahui, yang lebih menariknya lagi adalah ternyata tangga dramatika bisa ditentukan dengan cara menentukan beat dari naskah tersebut. Kumpulan beat yang telah ditentukan itulah yang kemudian menjadi titik-titik yang bisa ditarik garis membentuk tangga dramatika.

Nah, cara itulah yang bisa digunakan oleh aktor agar aktor dapat mengetahui titik-titik tertentu dalam tangga dramatica walaupun sutradaranya tidak menyampaikan tentang tangga dramatica dari naskah atau pertunjukkan tersebut. Sebab, dari yang diungkapkan pemateri kelas tangga dramatika, seringkali sutradara lupa menyampaikan tangga dramatika pada aktornya dan hanya dia simpan sendiri.

Padahal, dengan mengetahui tangga dramatica aktor jadi tahu seberapa muatan emosi yang harus dia berikan pada bagian-bagian tertentu. Hal inilah yang membantu aktor dalam menentukan setinggi atau sebesar apa muatan emosi atau perasaan yang harus aktor berikan pada bagian tertentu. Selain itu, dengan tangga dramatika aktor juga bisa lebih mudah menentukan titik-titik perubahan atmosfer pada naskah sehingga saat aktor menginterpretasikan adegannya perubahan-perubahan tersebut bisa terlihat jelas sampai ke penonton. Dengan begitu, penonton yang menyaksikan pertunjukkan bisa terbawa naik – turun perasaannya sesuai target aktor dan sutradara.

Ignatia Grace Wahyuni.
October 01, 2018 No komentar

Proses yang kita lakukan Sabtu lalu (21/9) bertempat di rumah Mas Agathon, sesepuh Teater Seriboe Djendela. Bagi saya dan mungkin beberapa teman, ini adalah kali pertama berkunjung ke sana. Saat memasuki rumah, kami disambut dengan vespa dan ornamen-ornamen antik yang memesona. Tumpukan buku yang memenuhi sudut ruang tamu membuat hati makin bergejolak. Suasanya begitu nyaman dan sejuk karena banyak tanaman hias di luar maupun di dalam rumah.

Saat aktor, sutradara, dan pengamat sudah lengkap, kita pindah ke lantai atas. Agenda di hari itu adalah membaca dan membedah karakter dari naskah yang digarap. Tapi ada usulan dari Mas Aga untuk tidak sekedar membaca, tetapi sekalian mengekplore ruang gerak dan beradegan. Ruangan itu memang sebelas dua belas dengan setting di naskah yang kita garap. Jadi waktu itu kita membaca dialog sembari benar-benar melakukan apa yang tertulis di naskah. Butuh konsentrasi, fokus, teliti, dan kepekaan antar tokoh ketika membaca sembari beradegan. Terlebih waktu itu kita belum terlalu akrab dengan naskah.

Setelah kurang lebih satu jam membaca naskah, kita merefleksikan apa saja yang kita rasa dan temukan. Disambung dengan perbincangan mengenai karakter dalam naskah. Ada beberapa metode untuk menganalisis karakter. Menurut Yapi Tambayong (2000), saat menganalisis karakter dia membaginya menjadi empat aspek. Diantaranya adalah dari segi historis, fisiologis, sosiologis, dan filosofis.

Di perbincangan hari itu, sutradara bercerita tentang si penulis naskah. Dari mana si penulis berasal, di mana dia tinggal, dan bagaimana proses si penulis menemukan tokoh-tokoh tersebut. Informasi yang dibagi sang sutradara sangat membantu kita untuk mengorek lebih dalam tentang naskah yang digarap, terlebih untuk karakter di dalamnya. Sebab untuk memerankan sebuah lakon, kita tidak berpura-pura, kita harus menjadi tokoh tersebut.

Mediana Drupadi
28 September 2018
October 01, 2018 No komentar
Older Posts

Undangan Terbuka

Undangan Terbuka

Sedang Disiapkan

Sedang Disiapkan

Tulisan Favorit

  • aku ingin bicara dengan kamu,boleh?
    mas, ini susumu. minumlah lebih banyak biar kamu sehat. aku sangat senang membuatkanmu susu, entah hangat atau anyep, putih atau c...
  • Saksi Bisu — Cerpen
    Pria berkemeja hitam itu melirik arloji di tangan kirinya. Jari telunjuk kanannya mengetuk meja kayu dihadapannya berulang kali. Kakinya ...
  • Pentas Pembacaan Dramatik “Lena Tak Pulang” (2016)
    Pentas Pembacaan Dramatik “Lena Tak Pulang”, 17 September 2016. Pembacaan Dramatik adalah sebuah bentuk apresiasi naskah drama yang ber...

On Twitter!

Tweets by SeriboeDjendela

Created with by ThemeXpose